Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Sekjen TKN: Prabowo Pura-pura Lupa Sejarah

Menurut Hasto, Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya.

Sekjen TKN: Prabowo Pura-pura Lupa Sejarah
Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Sekertaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Hasto Kristiyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Serangan ekonomi kebodohan oleh calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto semakin menunjukkan dirinya pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu disampaikan Hasto Kristiyantp, Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin dalam keterangannya kepada Tribunnews.com, Jumat (12/10/2018).

"Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau mark-up wajah. Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri," ujar Sekjen PDI Perjuangan ini.

Menurut Hasto, Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya.

"Bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh-bodohkan ekonomi bangsanya,” tegasnya.

Sebab kata dia, pernyataan Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

"Pak Prabowo harus paham bahwa dampak 32 tahun Ekonomi Kekuasaan juga membawa “keuntungan” bagi total kekayaannya saat ini," jelasnya.

"Evaluasi kritis bahkan cenderung otopis yang dituduhkan oleh Pak Prabowo bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini melebihi neo-liberal dan dikatakan ekonomi kebodohan hanyalah klaim sepihak tanpa dasar," ucapnya.

Sejarah mencatat, kata Hasto, reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter dimana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Presiden kedua RI, Soeharto.

"Pak Prabowo seharusnya paham hal ini," Sekjen PDI Perjuangan ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas