Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Momen Kasus ''Wajah Boyolali'' Kiranya Kembalikan Kita Ke Model Kampanye Substantif

Menurut pengamat politik Ray Rangkuti, pengalaman "tampang Boyolali" harus menyudahi kampanye negatif atau saling nyinyir

Momen Kasus ''Wajah Boyolali'' Kiranya Kembalikan Kita Ke Model Kampanye Substantif
Tribunnews/JEPRIMA
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat memberikan sambutan saat akan mendeklarasikan Gerakan Emas atau Gerakan Emak-Emak dan Anak Minum Susu di Stadion Klender, Jakarta Timur, Rabu (24/10/2018). Dalam deklarasi tersebut Prabowo berjanji jika terpilih pada Pilpres 2019, akan mencanangkan Gerakan Emas sampai ke desa-desa yang merupakan rangkaian dari Revolusi Putih salah satu program pasangan Prabowo-Sandiaga. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kasus candaan "tampang Boyolali" oleh calon Presiden Prabowo Subianto harus menjadi pembelajaran berarti bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden di tahun politik.

Menurut pengamat politik Ray Rangkuti, pengalaman "tampang Boyolali" harus menyudahi kampanye negatif atau saling nyinyir bagi para peserta Pilpres 2019.

"Lebih dari itu, peristiwa ini kiranya menjadi sebab untuk kembali ke kampanye dengan muatan visi, misi dan program yang diutamakan," ujar Ray Rangkuti kepada Tribunnews.com, Kamis (8/11/2018).

Ray Rangkuti menilai, dua bulan lebih pelaksanaan kampanye, namun lebih banyak diisi oleh hal-hal yang bersifat saling serang personal, nyinyir dan asal dilihat berbeda.

Sangat disayangkan kata Ray Rangkuti, ruang dan waktu kampanye kurang mengedepankan pergulatan isu-isu substantif. Yang menyangkut masalah berbangsa dan bernegara serta bagaimana mengelola masalah itu di masa sekarang dan akan datang.

"Momen kasus "wajah Boyolali" ini kiranya mengembalikan kita ke model kampanye substantif," jelas Ray Rangkuti.

Melaui vlog bersama kordinator Juru bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, Prabowo menyampaikan permintaan maaf apabila ada yang tersinggung dengan pidatonya tersebut.

"Saya tidak maksud menghina, Tapi kalau ada yang merasa tersinggung saya minta maaf," kata Prabowo dalam vlog di akun Instagram Dahnil yang diunggah, Selasa malam, (6/11/2018).

Baca: Zumi Zola Dituntut 8 Tahun Penjara ‎dan Denda Rp 1 Miliar

Prabowo kemudian menjelaskan mengenai pidato tersebut. Pidato disampaikan dalam acara peresmian gedung yang pesertanya berasal dari kader partai mitra koalisi yang jumlahnya sekitar 400 sampai 500 orang.

Dalam pidato kurang lebih satu jam tersebut Prabowo mengatakan tidak ada sama sekali niatan untuk merendahkan warga Boyolali. Pernyataan 'Tampang Boyolali' tersebut merupakan gaya bicaranya yang merasa dekat dengan warga.

"Tidak ada niat sama sekali, itu kan cara saya bicara, familier, ya istilah bahasa bahasa sebagai orang temen," katanya.

Adapun menurut Prabowo pidato 'Tampang Boyolali' tersebut tersebar dalam cuplikan video yang hanya berdurasi dua menit. Padahal dalam pidato utuhnya ia berbicara mengenai masalah kesenjangan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

"Itu bukan menghina, itu empati, kalau saya bicara tampang itu Boyolali, itu selorohnya empati, saya tahu kondisi kaluhan yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan, dan Indonesia masih tidak adil, dan kalau saya disebut Tampang Bojong koneng terimakasih lah. Saya tidak maksud menghina," katanya.

Prabowo mengaku siap apabila ada yang menginginkan dialog, akibat pernyataannya tersebut. Malah menurutnya dialog harus dikedepankan dalam menyelesaikan permasalahan.

"Kalau ada dilaog langsung tidak ada masalah,baik baik saja, Demikrasi ya harus dinamis. Diaogis, kalau kita tidak boleh melucu seloroh, joking, bercanda, ya bosen. (*)

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas