Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Permintaan Maaf Prabowo Harusnya Disertai Pencabutan Laporan Hukum

Menurut Ray Rangkuti, kita sudah harus mulai lagi tradisi jika saling memaafkan, berarti pula persoalan yang menyangkut hukum juga ditiadakan.

Permintaan Maaf Prabowo Harusnya Disertai Pencabutan Laporan Hukum
Tribunnews.com/Eri Komar Sinaga
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti. TRIBUNNEWS.COM/ERI KOMAR SINAGA 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Permintaan maaf calon presiden Prabowo Subianto tentu diharapkan dapat menyudahi perselisihan soal kata "wajah Boyolali."

Diharapkan kedua belah pihak, pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, baik Prabowo maupun warga Boyolali dapat menyudahi persoalan dengan saling memaafkan.

"Warga mencabut kembali laporan mereka atas terhadap Prabowo dari kepolisian. Begitu juga pihak Prabowo untuk juga mencabut laporan mereka terkait dengan ucapan pejabat Boyolali yang mereka anggap tidak pantas," ujar Ray Rangkuti kepada Tribunnews.com, Kamis (8/11/2018).

Menurut Ray Rangkuti, kita sudah harus mulai lagi tradisi jika saling memaafkan, berarti pula persoalan yang menyangkut hukum juga ditiadakan.

Karena dia menilai, pameo maaf diberikan tapi hukum terus berlanjut kurang tepat.

"Permintaan maaf jadi kurang bermakna jika proses hukum tetap dilangsungkan," jelas Ray Rangkuti.

Melaui vlog bersama kordinator Juru bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, Prabowo menyampaikan permintaan maaf apabila ada yang tersinggung dengan pidatonya tersebut.

"Saya tidak maksud menghina, Tapi kalau ada yang merasa tersinggung saya minta maaf," kata Prabowo dalam vlog di akun Instagram Dahnil yang diunggah, Selasa malam, (6/11/2018).

Prabowo kemudian menjelaskan mengenai pidato tersebut. Pidato disampaikan dalam acara peresmian gedung yang pesertanya berasal dari kader partai mitra koalisi yang jumlahnya sekitar 400 sampai 500 orang.

Baca: Kasus Habib Rizieq di Arab, Kubu Jokowi: Kalau Demo di Indonesia Salah Sambung

Dalam pidato kurang lebih satu jam tersebut Prabowo mengatakan tidak ada sama sekali niatan untuk merendahkan warga Boyolali. Pernyataan 'Tampang Boyolali' tersebut merupakan gaya bicaranya yang merasa dekat dengan warga.

"Tidak ada niat sama sekali, itu kan cara saya bicara, familier, ya istilah bahasa bahasa sebagai orang temen," katanya.

Adapun menurut Prabowo pidato 'Tampang Boyolali' tersebut tersebar dalam cuplikan video yang hanya berdurasi dua menit. Padahal dalam pidato utuhnya ia berbicara mengenai masalah kesenjangan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

"Itu bukan menghina, itu empati, kalau saya bicara tampang itu Boyolali, itu selorohnya empati, saya tahu kondisi kaluhan yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan, dan Indonesia masih tidak adil, dan kalau saya disebut Tampang Bojong koneng terimakasih lah. Saya tidak maksud menghina," katanya.

Prabowo mengaku siap apabila ada yang menginginkan dialog, akibat pernyataannya tersebut. Malah menurutnya dialog harus dikedepankan dalam menyelesaikan permasalahan.

"Kalau ada dilaog langsung tidak ada masalah,baik baik saja, Demikrasi ya harus dinamis. Diaogis, kalau kita tidak boleh melucu seloroh, joking, bercanda, ya bosen. (*)

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas