Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Jokowi Harap Politik Beri Rasa Kegembiraan dalam Pesta Demokrasi di Indonesia

Presiden Jokowi berharap politik dan pesta demokrasi Indonesia sudah semestinya disambut dan dihinggapi rasa gembira oleh masyarakat Indonesia

Jokowi Harap Politik Beri Rasa Kegembiraan dalam Pesta Demokrasi di Indonesia
Biro Pers Setpres/Rusman
Presiden Joko Widodo saat meresmikan jalan tol Pejagan-Pemalang (segmen Brebes Timur-Sewaka) sepanjang 37,3 kilometer dan jalan tol Pemalang-Batang (segmen Sewaka-Simpang Susun Pemalang) sepanjang 5,4 kilometer di Kabupaten Tegal, Jumat (9/11/2018) 

TRIBUNNEWS.COM, TEGAL - Di sela peresmian jalan tol di Kabupaten Tegal, Presiden Joko Widodo menyampaikan harapannya terkait pesta demokrasi di Indonesia yang tengah berlangsung.

Presiden Jokowi berharap politik dan pesta demokrasi Indonesia sudah semestinya disambut dan dihinggapi rasa gembira oleh masyarakat Indonesia.

Baca: Politikus PKS Sebut Politik Genderuwo Lebih Tepat Disematkan Kepada Pemerintah

Dengan kegembiraan itu, masyarakat dapat memberikan suaranya secara jernih dan rasional bagi pemimpin yang dirasa tepat memimpin Indonesia. 

Kegembiraan demokrasi ini, kata Presiden Jokowi, tentu hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Presiden Jokowi juga berharap olitik yang dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika sudah sewajarnya dihindari.

"Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh sebab itu, sering saya sampaikan: hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan," ujar Presiden dalam keterangan pers Biro Pers Istana Kepresidenan, Jumat (9/11/2018).

Dalam acara sebelumnya di Gelanggang Olahraga Tri Sanja, Presiden Jokowi sempat menyinggung soal kesantunan yang dirasa menghilang dari sejumlah perilaku berpolitik.

Presiden Jokowi melihat sekarang ini banyak politikus yang pandai memengaruhi masyarakat. Namun, yang amat disayangkan olehnya, para pelaku politik cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan dan kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat emang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, masyarakat akan menjadi ragu-ragu," kata Jokowi.

Presiden Jokowi memiliki satu istilah khusus untuk menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Berangkat dari mitos Jawa mengenai makhluk halus, dirinya menyebut hal itu sebagai "politik genderuwo", politik yang menakut-nakuti.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti," tuturnya.

Presiden berharap agar cara-cara berpolitik serupa itu segera ditanggalkan. Sudah selayaknya bagi masyarakat kita untuk memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di negara kita.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas