Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Prabowo: Rakyat Mau Dicuci Otaknya dengan Pers ‎

Mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut mengatakan bahwa pemberitaan media sekarang banyak bohongnya ketimbang benarnya.

Prabowo: Rakyat Mau Dicuci Otaknya dengan Pers ‎
Taufik Ismail
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menduga sekarang ini ada upaya memanipulasi demokrasi di Indonesia. Ada pihak yang ingin menyogok masyarakat dalam Pemilu nanti dengan uang yang didapat dengan praktik kotor.

"Uang yang didapat dari praktik yang tidak benar, kasarnya uang yang mereka dapat dari mencuri uang rakyat indonesia. dengan uang itu mereka mau menyogok semua lapisan bangsa indonesia. semua lapisan. partai politik semua dibeli. pejabat-pejabat dibeli. Rakyat mau dibohongi," ujar Prabowo di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu, (5/12/2018).

Selain itu menurut Prabowo saat ini rakyat juga dicuci otaknya oleh pemberitaan media massa. Mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut mengatakan bahwa pemberitaan media sekarang banyak bohongnya ketimbang benarnya.

"Rakyat mau dicuci otaknya dengan pers yang terus terang saja banyak bohongnya daripada benarnya. saudara-saudara, aku tiap hari ada kira-kira 5 sampai 8 koran yang datang ke tempat saya. saya mau melihat bohong apalagi nih. saya hanya mau lihat itu. bohong apalagi yang mereka cetak," kata Prabowo.

Puncaknya kata Ketua Umum Gerindra tersebut adalah pada acara reuni 212. Pers menurut Prabowo menelanjangi diri sendiri dihadapan rakyat Indonesia. Pasalnya banyak media yang tidak memberitakan acara tersebut, padahal dihadiri oleh 11 juta rakyat Indonesia.

Baca: Pertanyakan Tugas Stafsus Presiden di Papua, Komnas HAM: Pemerintah Terlalu Fokus di Infrastruktur

"Ada belasan juta mereka tidak mau melaporkan. mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan. mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai jurnalis. saya katakan hei media-media yang tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta orang di situ, kau sudah tidak berhak memandang predikt jurnalis lagi," katanya.

"Kau boleh, kau cetak, boleh kau ke sini dan ke sana, saya tidak mengakui anda sebagai jurnalis. tidak usah saya sarankan kalian tidak usah hormat sama mereka lagi. mereka hanya anteknya orang yang ingin hancurkan republik indonesia," pungkasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas