Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Narasi Kedua Capres Dinilai Penuh Sensasi, Belum Sentuh Kebutuhan Riil Publik

"Isu-isu murahan ini secara tidak langsung menunjukkan kualitas dan kapasitas pasangan capres yang sekarang sedang bertarung," kata Pangi

Narasi Kedua Capres Dinilai Penuh Sensasi, Belum Sentuh Kebutuhan Riil Publik
ISTIMEWA
Pengamat Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research, Pangi Syarwi Chaniago 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Analis politik Pangi Syarwi Chaniago menilai dua bulan masa kampanye, ruang publik cenderung diisi oleh kebisingan yang penuh dengan sensasi.

Menurut Pangi, narasi dari kedua calon presiden dan timnya masih berkutat pada isu murahan yang jauh dari substansi dan belum menyentuh soal-soal yang berhubungan langsung dengan isu utama apa yang menjadi kebutuhan dan problem riil yang sedang dihadapi rakyat.

Baca: Jokowi Sebut Media Massa Buat Dirinya Dikenal Masyarakat

"Isu-isu murahan ini secara tidak langsung menunjukkan kualitas dan kapasitas pasangan capres yang sekarang sedang bertarung," kata Pangi yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini dalam keterangannya, Sabtu (8/12/2018).

Pangi menilai, kedua pasangan capres seperti gamang untuk menyampaikan visi, misi dan program nyata yang akan ditawarkan kepada pemilih.

"Situasi ini pada akhirnya membuat kita curiga, jangan-jangan kedua capres ini memang tidak punya kapasitas yang memadai untuk berdebat dalam hal-hal yang lebih substansial sehingga mereka lebih suka melakukan hal yang remeh temeh," tutur Pangi.

Lebih parahnya lagi, lanjut Pangi, situasi ini menular pada tim sukses dan juru bicara dari kedua tim.

Baca:  Dul Jaelani ke Idol Junior, Rossa Histeris Sebut Nama Ahmad Dhani, Begini Reaksi Maia Estianty

Kedua tim sepertinya lebih suka melakukan pembelaan secara mati-matian ketimbang memberikan saran dan masukan yang lebih produktif, berbobot pada jagoannya.

Kedua tim, lanjut Pangi, melakukan pembelaan jagoannya masing-masing di dalam perdebatan yang tidak pantas dipertontonkan dihadapan publik.

Mulai dari pemilihan kata, menyerang karakter dan pribadi seseorang sampai pada caci maki.

"Setali tiga uang, penyakit politisi ini juga menular pada masyarakat secara luas akibat terpapar tontonan tidak mendidik dari politisi dan para jubir kemarin siang yang miskin dealetika dan retorika berfikir," tutur Pangi.

Pangi menilai, pembelahan sosial yang semakin tajam di masyarakat tentu sangat tidak produktif jika dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut.

Pangkal perkara dari situasi ini, menurut Pangi adalah kurangnya narasi, literasi dan imaginasi dari kedua capres dan hal tersebut juga menular hingga ke publik.

Baca: Jika Terpilih Jadi Presiden, Prabowo Siap Pangkas Anggaran Pejabat ke Luar Negeri

"Situasi semacam ini tentu tidak akan terjadi jika kita punya calon pemimpin berkelas dan punya kapasitas. Sebut saja misalnya nama seperti Mahfud MD, Rizal Ramli, Anies Baswedan, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo dan sederet nama lain yang punya kapasitas melahirkan ide dan perdebatan berkualitas," kata Pangi.

Namun, lanjut Pangi, lagi-lagi aturan pemilu terkait presidential threshold menjadi kebuntuan politik yang menghambat putra-putri terbaik bangsa yang berkelas tampil ke-panggung politik yang lebih tinggi.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas