Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pak Polisi, Teroris Mau Menyerah tapi Ada Syaratnya

Setelah lama berada di persembunyian karena diburon aparat keamanan, anggota kelompok yang diduga terlibat terorisme di Aceh akhirnya menyampaikan keinginan untuk menyerah namun dengan sejumlah syarat.

Pak Polisi, Teroris Mau Menyerah tapi Ada Syaratnya
Serambi Indonesia
Petugas menyusuri hutan untuk mengejar teroris di wilayah Takengon Aceh

Anggota kelompok tersebut merasa menyesal dan menganggap mereka adalah korban dari doktrin jihad. Selain itu, katanya, ia menduga keterlibatan mereka dalam kelompok jaringan teroris tersebut karena faktor minimnya pengetahuan. "Padahal mereka ini adalah orang biasa, bukan alumni pesantren dan bukan juga mantan GAM.

Tapi mereka dimanfaatkan oleh kelompok yang diburu negara," kata Yusuf. Seperti halnya Taufik, kata dia, lelaki itu hanya seorang tamatan SMP dan pernah menjadi pesuruh di salah satu SMP di Padang Tiji, dan berasal dari keluarga kurang mampu. Dia juga terbilang dekat dengan FPI, bahkan pernah menjenguk Ketua FPI Habib Rizieq Shihab saat di penjara Polda Metro Jaya awal Februari 2009.

Awal gerakan
Dalam satu dokumen yang diperoleh Serambi terungkap, keterlibatan Taufik bersama sejumlah anggota kelompok yang diduga teroris tidak terlepas dari peran Sofyan At Tsauri yang kini telah ditangkap polisi. Sofyan disebutkan pernah merekrut beberapa calon mujahidin FPI dari Aceh yang batal berangkat ke Palestina untuk ditempa menjadi jihadis sejati.

Permintaan tersebut disanggupi FPI dengan memberi sembilan nama, termasuk Taufik, Muhibuddin, dan Azwar yang kini menjadi buronan polisi. Sofyan At Tsauri dalam dokumen tersebut juga disebut sebagai instruktur atau mau'allim/pelatih ketika adanya kegiatan pelatihan militer kelompok tersebut di Aceh. Sofyan merupakan warga Depok, Jawa Barat dan beristrikan orang Aceh. Ia juga merupakan mantan polisi yang bertugas di Mapolres Depok. Namun berdasarkan rincian dokumen tersebut, kelompok yang digerakkan Sofyan dinilai semakin meragukan dan tidak sejalan dengan tujuan yang digagas FPI. Salah satunya, kelompok yang digerakkan Sofyan tersebut menganut paham wahabiyah sedangkan FPI berpaham Sunni.

Kejanggalan lainnya, sebagaimana terungkap dalam dokumen tersebut adalah adanya keinginan kelompok tersebut untuk membuka pelatihan mujahidin Asia Tenggara di Aceh dengan merekrut kembali calon mujahidin yang pernah berlatih di bawah komando FPI. Rencananya para mujahidin tersebut akan dikirim kembali ke Palestina dan kegiatan latihannya menggunakan senjata standar. Tujuan utama dari latihan ini adalah untuk i'dad atau persiapan sejak dini untuk menyiapkan mujahid-mujahid masa depan, sebelum akhirnya kamp pelatihan yang digagas Sofyan yang berlangsung di kawasan pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar tersebut digerebek aparat pada Fabruari 2010.


SYARAT YANG DIAJUKAN TERORIS
(Berdasarkan Kontak Telepon dengan Ketua FPI Wilayah Aceh)
1. Aparat keamanan tidak menyakiti (menyiksa) selama dalam tahanan.
2. Keluarga diberi akses menjenguk setiap saat atau seperlunya.
3. Tidak ditahan di luar Aceh, karena keluarga adalah orang miskin dan tidak punya biaya untuk menjenguk.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: inject by pe77ow
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas