Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Ramadan 2017

Buta Sejak Lahir, Mak Otoh Bersyukur Bisa Ajari Anak-anak Mengaji

Meski tak bisa melihat sejak lahir Mak Otoh (60) tak berkecil hati. Dengan kondisinya ia bersyukur masih bisa mengajar anak-anak membaca Alquran.

Buta Sejak Lahir, Mak Otoh Bersyukur Bisa Ajari Anak-anak Mengaji
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Mak Otoh mengajar mengaji sejumlah anak di rumahnya di Kampung Damping Sari, RT 2/3, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (15/6/2017). TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Meski tak bisa melihat sejak lahir Mak Otoh (60) tak berkecil hati. Dengan kondisinya ia bersyukur masih bisa mengajar anak-anak membaca Alquran.

Warga Kampung Damping Sari, RT 2/3, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, sudah sejak 1980-an menjadi guru mengaji. Dengan segala keterbatasan Mak Otoh mengajarkan tajwid dan tadarus Alquran.

"Ada 70 santri yang mengaji di sini. Usainya mulai dari 7 sampai 15 tahun," kata Mak Otoh yang hafal Alquran tanpa bantuan Alquran braile saat ditemui Tribun Jabar, Kamis (15/6/2017).

Ia mengajar mengaji anak-anak di rumahnya. Rumah semi permanen bercat putih itu menjadi saksi bisu Mak Otoh mengajarkan ilmu agama. Bagi Mak Otoh mengajar mengaji menjadi hiburannya di usia senja.

"Apalagi suami sudah meninggal. Dua anak saya juga tinggal di Aceh dan Surabaya. Jadi kalau ada anak-anak ramai rumahnya," sambung Mak Otoh.

Dengan telaten Mak Otoh mengajari setiap anak untuk mengaji dengan lancar. Jika ada kesalahan sedikit saja, ia bisa mendengarnya walau tak membaca Alquran secara langsung.

"Kalau bulan biasa suka empat kali mengajar ngajinya. Tapi di Ramadan cuma tiga kali. Waktu bakda Magrib selama Ramadan enggak ada aktivitas mengaji dulu," ujar dia.

Pengetahuan mengaji yang dimilikinya Mak Otoh dapat secara otodidak. Tidak ada bantuan Alquran braile saat ia belajar mengaji.

"Mungkin duku sering dengar orang mengaji jadi terbiasa dan suka dilantunkan," ia mengenang.

Dari mengajarkan mengaji Mak Otoh mampu menghidupi dirinya. Bantuan sukarela tiap warga datang kepadanya. Ia tak pernah meminta imbalan selama mengajar nganji.

Biasanya warga sekitar banyak mengirim beras, jagung, ikan, dan lainnya untuk kebutuhan Mak Otoh sebagai bentuk syukur anak-anaknya bisa mengaji.

"Anak-anak juga suka membantu mencuci pakaian. Alhamdulillah banyak yang bantu," kata dia.

Pendidikan Alquran yang diajarkan Mak Otoh merupakan bentuk pengabdiannya. Ia tak pamrih meski banyak warga yang menitipkan anaknya untuk mengaji.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas