Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Saat Gadis-gadis Cantik Terjun ke Pedalaman untuk Mengajar: Rela Kepanasan Hingga Riasan Luntur

Kulit Nadine yang putih kontras dengan anak-anak yang tinggal di kampung perbukitan nan tandus dan kering berjarak sekira 40 km dari Waikabubak

Saat Gadis-gadis Cantik Terjun ke Pedalaman untuk Mengajar: Rela Kepanasan Hingga Riasan Luntur
TRIBUNNEWS.COM / YULIS
Geraldine Nuranisa, mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame, Sumba Barat. Sekolah tersebut adalah SD paralel yang berada di kawasan pedalaman Sumba 

Panas Terik

Di kelas yang lantainya masih berupa tanah urukan dengan dinding anyaman bambu yang banyak bolongnya, Rinny yang dengan penuh kelembutan, memakaikan ikatan kepala dari kertas hasil karya timnya di Komunitas 1000 Guru.

Gadis yang berprofesi sebagai pramugari di maskapai ternama ini juga penuh kesabaran mengajar ilmu geografi agar siswa pedalaman ini mengenal kepulauan Indonesia.

Rinny Komara Sari  mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame, Sumba Barat. Sekolah tersebut adalah SD paralel yang berada di kawasan pedalaman Sumba
Rinny Komara Sari mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame, Sumba Barat. Sekolah tersebut adalah SD paralel yang berada di kawasan pedalaman Sumba (TRIBUNNEWS.COM / YULIS)

Ketika terik matahari kian mendera, dua gadis berparas manis yang berprofesi sebagai Vloger, yakni Gloria Asti dan Rani Ramadhani malah mengajak anak-anak bernyanyi sambil menari di halaman sekolah.

Terpaan debu dari halaman berupa tanah merah, tak menyurutkan dua mahasiswi asal Jakarta dan beberapa relawan 1000 Guru untuk terus mengajak siswa bernyanyi.

Baca: Potret Siswa SD di Pedalaman: Kurang Gizi, Pertama Kali Makan Telur Lalu Muntah

Para orangtua dan warga dengan wajah ceria menyaksikan anaknya dididik guru-guru muda dari komunitas 1000 Guru.

Dua vloger yakni Gloria dan Rani mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame, Sumba Barat
Dua vloger yakni Gloria dan Rani mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame, Sumba Barat

Byanmara (19),mahasiswi ITB Bandung yang juga menjadi bagian 1000 Guru, mengaku sangat bahagia bisa mengajar anak-anak pedalaman.

Gadis manis yang sudah beberapa kali ikut mengajar bersama Komunitas 1000 Guru di sekolah pelosok di Pulau Jawa, tak menyangka masih banyak anak-anak Indonesia yang tingkat kecerdasannya masih jauh di bawah standar.

"Saya baru sekali mengajar anak-anak pedalaman di kawasan Timur Indonesia. Daya tangkapnya sangat rendah. Diajak ngomong susah nyambung. Bahkan, warna saja nggak tahu. Tadi saat ditanya apa warna bendera Indonesia, mereka sebut kuning," ujar Byanmara yang juga mengajar kelas 1 SDN paralel Mata Wee Tame.

Byanmara (berkaos putih-merah), dokter Lala Akal (paling kanan), Pandu (vloger) berambut gondrong saat  Nurhasanah (selendang biru) mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame,Sumba Barat
Byanmara (berkaos putih-merah), dokter Lala Akal (paling kanan), Pandu (vloger) berambut gondrong saat Nurhasanah (selendang biru) mengajar di SDN (Paralel) Mata Wee Tame,Sumba Barat (TRIBUNNEWS.COM / YULIS)
  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas