Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Potensial, Keuangan Syariah Tumbuhkan Semangat Berekonomi

Ahmad Heryawan (Aher) mengungkapkan ekonomi syariah dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Potensial, Keuangan Syariah Tumbuhkan Semangat Berekonomi

BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengungkapkan ekonomi syariah dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gubernur menilai ekonomi berbasis Wahyu Illahiah ini, berpotensi menumbuhkan semangat berekonomi bagi masyarakat Jabar.

Aher menuturkan, ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi berbasis keyakinan kepada Allah SWT, dengan berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

"Ini urusan ekonomi yang bersumber pada wahyu. Perundang-undangannya langsung dari Allah SWT," ungkap Ahmad Heryawan pada Kick-Off kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2017 yang bertemakan 'Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional', bertempat di Bale Asri Pusdai Bandung, Rabu (14/09/2017).

Aher pun menyebutkan bahwa ekonomi merupakan pilar sebuah peradaban. Bahkan separuh dari unsur penciptaan manusia merupakan unsur materi dan fisik, yang menjadi modal dasar dalam menjalankan proses perekonomian.

Aher mengungkapkan bahwa peradaban perekonomian pun telah berjalan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah seorang 'Saudagar' yang jadi contoh utama dalam menjalankan bisnis dengan asas-asas syariah.

"Jadi seharusnya orang yang beriman itu maju luar biasa. Karena iman membawa paradigma baru tentang kehidupan, paradigma kemajuan. Benci akan kemiskinan, benci akan kebodohan, benci akan segala urusan keterbelakangan, yang dia cintai karena keimanannya adalah kemajuan dan kemajuan dalam konteks iman dan takwa kepada Allah swt," kata Aher.

Lebih lanjut, Aher menjelaskan prinsip ekonomi dalam Islam yaitu sebuah pasar yang berkeadilan yang non-ribawi, non-gharar, dan non-keserakahan.

Tak hanya itu, Aher juga menjelaskan bahwa dalam Islam juga dikenal suatu bentuk pemerataan perekonomian yang disebut dengan zakat. Adapun distribusi pemerataan harta yang tidak wajib, atau bersifat sukarela disebut sebagai infaq dan sedekah.

"Ternyata, menurut matematika Ketuhanan, infaq sedekah bukan mengurangi harta, tapi menambah harta," kata Aher.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas