Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Sakit Setelah Sepekan Disandera, Emak-emak di Mimika Tiga Jam Pikul Sugiyono Keluar Kampung

Kurang lebih sepekan sudah penyanderaan dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di area Freeport, Kecamatan Tembagapura, Mimika, Papua.

Sakit Setelah Sepekan Disandera, Emak-emak di Mimika Tiga Jam Pikul Sugiyono Keluar Kampung
capture video
1.300 Warga Disandera, Panglima TNI Siapkan Ambil Langkah untuk Pembebasan 

TRIBUNNEWS.COM - Kurang lebih sepekan sudah penyanderaan dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di area Freeport, Kecamatan Tembagapura, Mimika, Papua. Kini kondisi para sandera mulai memprihatinkan.

Salah satunya dialami oleh salah seorang pria asal Pulau Jawa bernama Sugiyono. Dia jatuh sakit dan stres akibat disandera di Kampung Kimbely.

Sugiyono berhasil keluar kampung berkat bantuan mama-mama penduduk lokal. Selama tiga jam, para mama ini memikul Sugiyono menuju Tembagapura untuk mendapatkan pertolongan medis.

"Jadi dia digotong mama-mama yang hendak mengambil bahan makanan yang disediakan Pemerintah. Saat tiba di Tembagapura, Sugiyono memiliki fisik yang sangat lemah dan juga stres," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi, Selasa (14/11) sore.

Menurut Aidi, selama ini Sugiyono mendulang emas secara tradisional sejak tahun 2009 dan tinggal di rumah kepala suku setempat, sehingga dia diberi izin keluar dari Kimbely untuk mendapat pertolongan medis.

"Saat ini Sugiyono berada di Rumah Sakit Tembagapura untuk mendapat pertolongan. Diduga, penyebab Sugiyono stres lantaran tak diberikan akses keluar kampung selama ini, apalagi informasinya mereka dijaga oleh anggota Tentara Papua Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) yang dilengkapi dengan senjata api."

"Dari pengakuannya, selama ini mereka hanya mengonsumsi hasil kebun masyarakat karena warung di sana sudah ditutup," katanya.

Aidi menambahkan, panyanderaan masih berlangsung di sana. Para penyandera kehabisan logistik. Lalu mereka meminta mama-mama penduduk lokal untuk mengambil bahan makanan yang disediakan pemerintah di kota.

"Hanya mama-mama yang diberi izin keluar, tetapi mereka juga dapat ancaman, apabila mama-mama yang mengambil bahan makanan memberikan ancaman kepada kelompok TPN OPM ini, maka nyawa keluarga mereka penggantinya," kata Aidi. (tribunjateng/kps)

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas