Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Penyerangan Tempat Ibadah

Kehidupan Penyerang Gereja Santa Lidwina, Suliono Dijauhi Teman-temannya di Pesantren

Suliono (23) tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren (ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman I, Desa Payaman, Kecamatan Secang

Kehidupan Penyerang Gereja Santa Lidwina, Suliono Dijauhi Teman-temannya di Pesantren
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GOZALI
Warga bergotong royong membersihkan Gereja Santa Lidwina di kawasan Bedog, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (12/2/2018). Umat katolik yang tengah melaksanakan misa di Gereja Santa Lidwina diserang tiba-tiba oleh seorang pria bernama Suliono pada Minggu 1 Februari lalu. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

TRIBUNNEWS.COM, MAGELANG - Suliono (23) tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren (ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman I, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sejak Juli 2017.

Namun, perilakunya cenderung mengarah kepada paham radikal yang tidak sepaham dengan ajaran di ponpes tersebut, sehingga tidak jarang teman-temannya sesama santri mengucilkannya.

"Kalau ngobrol itu selalu soal jihad-jihad radikal, teman-temannya sering tidak nyambung, jadi tidak pernah diperhatikan. Kalau di kelas kadang agak dikucilkan," tutur Hanafi, kepala Madrasah Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman I, Desa Payaman, Senin (12/2/2018) sore.

Baca: Kontroversial, Selebrasi Pemain China Saat Hadapi Indonesia Tuai Komentar Negatif

Hanafi menceritakan, Suliono hanya bertahan lima bulan saja berada di ponpes ini. Selama itu, perilakunya memang terlihat biasa layaknya santri lainnya. Dia juga membantu usaha laundri salah satu pengasuh ponpes.

"Kalau perilaku normal seperti santri yang lainnya. Cuma kalau kata kawan-kawannya, dia sering ngobrolin tentang jihad, pernah lihat video, berita-berita jihad seperti itu," paparnya.

Hanafi mengaku kaget mengetahui informasi tentang Suliono yang menyerah gereja Santa Lidwina di Sleman, Minggu (11/2/2018) kemarin. Dia baru tahu kabar tersebut dari kepolisian yang datang ke ponpesnya, Minggu malam.

"Saya kaget sekali, baru tahu dari Bapak polisi yang datang kemari. Kami memang kurang mengikuti media sosial, santri kami tidak diperbolehkan bawa handphone," tuturnya.

Hanafi sangat menyayangkan tindakan Suliono itu karena telah mencemarkan nama Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman I, Payaman. Hanafi menegaskan, ponpes yang berdiri sejak 105 tahun silam ini tidak pernah mengajarkan sedikit pun tentang kekerasan, terlebih radikalisme.

"Kurikulum yang kami pakai sejalan dengan Nahdlatul Ulama (NU), sama dengan kurikulum yang dipakai di ponpes umumnya. Kami belajar menghafal Al Quran, hadits," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sanusi
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Penyerangan Tempat Ibadah

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas