Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Perkuat Tradisi Penelitian, IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Seminar Nasional Riset Living Quran-Hadis

Sebagai wacana bahwa IIQ An Nur merupakan satu institusi yang didirikan pada tahun 2002 dan berada di bawah naungan

Perkuat Tradisi Penelitian, IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Seminar Nasional Riset Living Quran-Hadis
Istimewa
Perkuat Tradisi Penelitian, IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Seminar Nasional Riset Living Quran dan Hadis 

TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Pondok pesantren sampai sekarang masih dianggap salah satu penjaga tradisi keilmuan Islam yang paling mampu diandalkan. Terlebih keberadaan perguruan tinggi Islam dalam tubuh pesantren ini diharapkan bisa menyinergikan antara pendidikan kognitif dan afektif.

Sehingga nantinya akan muncul generasi baru intelektual santri yang cerdas dan tangkas secara keilmuan, sekaligus berakhlak dengan akhlak qurani sebagaimana ajaran Nabi Muhammad saw.

Pernyataan di atas senada dengan apa yang disampaikan oleh M. Ikhsanudin, Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran An Nur (IIQ An Nur) Yogyakarta dalam sambutannya pada pembukaan Seminar Nasional bertajuk “Paradigma, Teori, Model-model Riset Living Quran dan Hadis” yang diadakan pada Selasa siang (27/2/2018) di Auditorium Institut Ilmu Al-Quran An Nur Yogyakarta.

Perkuat Tradisi Penelitian, IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Seminar Nasional Riset Living Quran dan Hadis
Perkuat Tradisi Penelitian, IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Seminar Nasional Riset Living Quran dan Hadis (Istimewa)

“Saya ingin mengulang apa yang disampaikan pesan Kiai Abdul Qoyyum. Setidaknya ada dua hijab yang harus tersingkap dari para mahasiswa di sini: Hijab Khuluqi dan Hijab Aqli. Dalam kasus Hijab Khuluqi, insya Allah para mahasiswa di sini sudah terlewati. La wong sama dosennya saja cium tangan, karena tradisi ini sudah melekat dalam diri mahasiswa santri. Nah, yang perlu kita hidupkan adalah Hijab Aqli. Yaitu kemampuan berpikir secara bagus, secara analisis, secara sistematis. Dan kita perlu memiliki wawasan yang luas. Ini yang saya kira perlu kita buka supaya bisa futuh (penyingkapan intelektual. Red.), yang salah satunya melalui forum-forum diskusi semacam ini.” Demikian tegas Ikhsanudin.

Seminar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran An Nur Yogyakarta ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Ahmad Rafiq, MA, Ph.D, dosen sekaligus pakar living Quran dan hadis dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ahmad Sihabul Millah, MA, pakar sosiologi dari IIQ An Nur Yogyakarta. Bertindak sebagai moderator pada acara ini adalah Abdul Jabpar, M.Phil, kandidat doktor studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ikhsanudin menjelaskan bahwa ia beserta jajarannya akan menggelar kegiatan serupa sebulan sekali dalam rangka memperkuat tradisi riset di kampus IIQ An Nur ini. Selain itu, seminar ini sekaligus merupakan bentuk join seminar dalam rangka membuka kerja sama dengan kampus-kampus lain dalam ilmu-ilmu keushuluddinan. Join seminar ini tidak lain merupakan wujud civitas akademik untuk menghidupkan gelora intelektual di kalangan mahasiswa santri dan memperkenalkan IIQ An Nur kepada masyarakat luas.

Pada sesi diskusi, Ahmad Rofiq memulai dengan menjelaskan urgensi tema tersebut. Ia menegaskan bahwa tema ini di UIN Sunan Kalijaga telah menjadi mata kuliah di S1 sejak 2007. Tiga tahun kemudian diajarkan di S2, dan menyusul pada 2015 diajarkan di S3. Lebih lanjut ia juga menerangkan bahwa materi ini merupakan kajian yang lumayan berat, dan isu ini di UIN Jogja menjadi kajian pionir dalam studi al-Quran di Indonesia. Tapi di tempat lain sebenarnya sudah lama. Kalau kita mengkaji isu-isu al-Quran di Amerika Utara dan Eropa, sebenarnya tema ini sudah lama masuk dalam kajian mereka. Seperti Frederick Danny telah berbicara tentang tradisi khataman di Indonesia dalam tulisannya sejak tahun 1976. Tapi kita tidak pernah menyentuh itu. Kita di Indonesia selalu menganggap kajian itu sebagai kajian antropologi dan sosiologi.

“Ada problem epistemologi yang dikaji dalam antropologi dan sosiologi yang itu hanya bisa diselesaikan oleh orang dengan background studi al-Quran. Jadi kalo bukan orang studi al-Quran yang pegang, nanti ada gap dalam epistemologinya yang mana orang-orang di luar kajian tersebut sama sekali tidak punya alat untuk menyelesaikannya.” Terang Ahmad Rofiq.

Ahmad Rofiq menambahkan, “Di wilayah di mana masyarakat bukan non arabic speaking atau masyarakat bukan sebagai penutur Arab asli, bahkan penutur Arab juga mengalami, seperti dalam riset-risetnya Lila Abu-Lughod dan Kristina Nelson, mereka menceritakan sering terjadi ketika mendengar bacaan al-Quran yang bekerja hanya otak kanan. Artinya, kognisinya tidak ikut, dan yang ikut hanya nilai estetisnya. Mereka manggut-manggut hanya mengikuti iramanya saja, tanpa mengetahui maknanya. Dan ini yang disebut dengan living. Karena ketika bahasa itu diucapkan atau dituturkan itu seharusnya pesannya tersampaikan. Dan dalam kasus al-Quran tidak selalu demikian. Kalau otak kiri tidak bekerja, maka bahasa itu tidak tersampaikan. Sebab tujuan bahasa adalah delivering message, dan kalau pesan tidak tersampaikan berarti hanya bekerja di otak kanan saja. Dan fenomena ini seringkali luput dari para pengkaji al-Quran.”

Seide dengan paparan Ahmad Rofiq, Sihabul Millah mempertajam dari sudut pandang riset living Quran dan hadis. Ia mengatakan setidaknya ada tiga pemaknaan terhadap living quran dan hadis. Pertama, Nabi Muhammad saw. adalah living Quran, dalam arti Al-Quran yang hidup. Berarti living quran ini bukanlah hal yang baru. Karena Nabi saw. sendiri personifikasi dari living Quran. Dan turunannya adalah living hadis. Kedua, Al-Quran yang mewujud dalam kehidupan sehari-hari seseorang atau masyarakat. Ketiga, Quran dipandang sebagai “kitab yang hidup” yang perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari begitu terasa dan nyata, serta beraneka ragam, tergantung pada bidang kehidupannya. Dengan ungkapan lain, Quran in everyday life.

“Praktek-praktek masyarakat atau tindakan sosial yang lahir karena adanya al-Quran dan hadis atau terinspirasi dari keduanya itulah yang disebut dengan living Quran dan hadis. Maka, kalau boleh saya bilang bahwa kajian living Quran dan hadis ini merupakan bagian dari kajian sosiologi agama. Sebab, kajian sosiologi agama merupakan tindakan masyarakat hasil dari pemahaman atau pengaruh terhadap system of believes. Jadi, living Quran itu praktek sosial atau individu yang terinspirasi dari al-Quran atau hadis.” Tambah Sihab.

Sebagai wacana bahwa IIQ An Nur merupakan satu institusi yang didirikan pada tahun 2002 dan berada di bawah naungan Yayasan al-Ma’had AN Nur Yogyakarta.

Berlokasi di komplek Pondok Pesantren An Nur, Ngrukem Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. IIQ An Nur mengemban misi menjadi sekolah agama Islam yang berkualitas dan menjadi pusat kajian keislaman sesuai kebutuhan zaman dan masyarakat dengan tidak menghilangkan nilai-nilai pesantren. Sampai saat ini, IIQ An Nur terus menggenjot para dosen dan mahasiswa untuk menyemarakkan tradisi riset dengan keikutsertaannya dalam berbagai riset-riset kajian-kajian keislaman dan sosial baik secara individu maupun institusi dalam ajang hibah riset dalam dan luar negeri.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Husein Sanusi
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas