Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Bom di Surabaya

Ada 4 Stadium Seseorang Jadi Teroris dan Lakukan Bom Bunuh Diri, Begini Kata Adik Kelas Dita

orang tak ujug-ujug menjadi seorang teroris. Ada proses evolusi, meski ada beberapa kasus seseorang bisa berubah menjadi teroris dalam sehari

Ada 4 Stadium Seseorang Jadi Teroris dan Lakukan Bom Bunuh Diri, Begini Kata Adik Kelas Dita
Kolase Tribun Jabar
Keluarga Dita Oepriyanto bomber satu keluarga asal Surabaya. 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Ahmad Faiz Zainuddin teman Dita Oepriyanto, pelaku teror bom di gereja Surabaya, banyak bercerita soal bagaimana seseorang bisa bersedia jadi pengantin bom bunuh diri.

Lulusan psikologi Universitas Airlangga (Unair) ini mengaku mengetahuinya, karena sudah mengikuti beberapa kelompok pengajian, dengan berbagai ideologi ajaran agama Islam.

Salah satunya pengajian yang diikuti oleh Dita Oepriyanto.

"Mana ada sekarang orang yang mau dipakai alat untuk negara tertentu, Israel misalnya, disuruh bunuh diri dengan bom? Kalau dirinya sendiri tidak meyakini itu benar?!" kata Faiz, saat ditemui Surya.co.id di rumah sang teman kawasan Jalan Manyar Sabrangan, Surabaya, Selasa (22/5/2018).

Faiz melanjutkan bahwa orang tak ujug-ujug (tiba-tiba) menjadi seorang teroris. Ada proses evolusi, meski ada beberapa kasus seseorang bisa berubah menjadi teroris dalam waktu satu hari saja.

Pada proses evolusi tersebut, Faiz melanjutkan ada empat tahap stadium seseorang bisa berubah menjadi teroris.

"Stadium empat sekarang jumlahnya masih kecil, tapi kalau stadium satu sudah banyak. Terorisme itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang jadi teroris. Mereka berevolusi," tegasnya.

Stadium satu terang Faiz dimulai dari seseorang mempercayai bahwa kepercayaan yang benar adalah 'golongan saya', selain itu salah. Di sana mulai ada dikotomi antara golongan kami dengan mereka.

Stadium dua, mereka mulai menganggap bahwa sistem negara tidak benar. Saat itu keyakinan ini hanya ada di dalam hati saja, tidak pakai kekerasan.

Faiz mencontohkan organisasi yang ingin mengganti dasar negara dengan konsep keagamaan versi sendiri dan teman-temannya, semua mulai dari gerakan di bawah tanah.

Stadium tiga, mulai mengumpat atau menggunakan kekerasan verbal untuk mengungkapkan ketidaksukaanya. Terkahir stadium empat, mereka mulai kekerasan fisik.

Proses evolusi itu lanjut Faiz terjadi tanpa mereka sadari.

"Tapi ada juga yang jangankan 1 tahun 2 tahun, sehari juga ada. Ali Imron pernah diwawancara oleh Wahid Fondation dia mengatakan bahwa 'beri saya anak yang ghiroh Islamnya sedang tinggi-tingginya, dalam waktu 24 jam dia bisa jadi pengantin'."

"Syaratnya satu itu, ghiroh islam yang sangat tinggi, misalnya mantan preman baru sadar, punya dendam banyak lainnya," terang Faiz.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
  Loading comments...

Berita Terkait :#Bom di Surabaya

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas