Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
Home »

Sains

Gerhana Bulan

'Super Blue Blood Moon' Bukan Sekadar Peristiwa Astronomi Langka

Gerhana menawarkan kesempatan untuk melihat apa yang terjadi saat permukaan bulan mendingin dengan cepat

'Super Blue Blood Moon' Bukan Sekadar Peristiwa Astronomi Langka
Twitter/@maximusupinNYc
Gerhana bulan di New York 

TRIBUNNEWS.COM - Super blue blood moon bukan sekadar peristiwa astronomi langka yang menggabungkan tiga fenomena sekaligus. Momen ini juga berarti kesempatan khusus untuk mempelajari bulan bagi para astronom.

Gerhana menawarkan kesempatan untuk melihat apa yang terjadi saat permukaan bulan mendingin dengan cepat akibat terhalangnya cahaya matahari untuk sampai ke bulan.

Informasi ini akan membantu para astronom memahami beberapa karakteristik regolith atau campuran tanah dan batuan yang belum dan sudah mengalami pelapukan di permukaan bulan, juga bagaimana regolith berubah dari waktu ke waktu.

"Selama gerhana, suhu akan turun drastis. Seolah-olah bulan yang panas seperti oven berubah menjadi lemari es hanya dalam beberapa jam saja," kata Noah Petro, peneliti NASA, dilansir dari laman resmi NASA, Selasa (23/1/2018).

Biasanya transisi temperatur ini terjadi selama 29,5 hari. Namun, adanya peristiwa gerhana membuat transisi ini terjadi begitu cepat.

Tiga peristiwa yang terjadi secara bersamaan ini akan dipelajari oleh para astronom dengan menggunakan kamera penginderaan panas atau thermal dari Observatorium Haleakala di pulau Maui Hawaii.

Tim melakukan investigasi terhadap tempat-tempat yang panasnya bisa terdeteksi melalui panjang gelombang yang tak terlihat. Sebelumnya, tim telah melakukan penelitian semacam ini beberapa kali dan memilih lokasi bulan untuk melihat bagaimana bulan mempertahankan kehangatan sepanjang gerhana.

"Seluruh karakter bulan berubah saat kita mengamati dengan kamera thermal selama terjadi gerhana. Di kegelapan, banyak kawah serta bagian lain yang tidak terlihat, dan saat gerhana normalnya area di sekitar kawah 'bersinar' karena bebatuan masih hangat," kata Paul Hayne, peneliti dari University of Colorado Boulder.

Seberapa cepat dan lambatnya permukaan kehilangan panas tergantung pada ukuran bebatuan dan karakteristik material, termasuk komposisinya.

Penelitian jangka pendek melalui fenomena gerhana ini akan memberikan informasi detail lain mengenai material-material halus dan lapisan teratas regolith.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas