Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
Home »

Travel

»

News

Noviendi Makalam: SDM Pariwisata Indonesia Tempati Posisi Kedua Setelah Singapura

Pekerja di sektor pariwisata Indonesia siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibanding sektor-sektor lainnya

Noviendi Makalam: SDM Pariwisata Indonesia Tempati Posisi Kedua Setelah Singapura
warta kota/warta kota/nur ichsan
Noviendi Makalam, Asisten Deputi Pengembangan Kementerian Pariwisata 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pekerja di sektor pariwisata Indonesia siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibanding sektor-sektor lainnya.

Hal itu juga sangat dimungkinkan dengan dorongan Kementerian Pariwisata untuk menghidupkan sikap terbuka dan siap menerima kritik membangun.

Pengamat ekonomi dan pariwisata Popy Rufaidah mengatakan hal itu saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Sabtu (9/1).

Popy yang merupakan Direktur Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran itu mengaku setuju dengan pernyataan Menteri Tenaga Kerja M. Hanif Dhakiri, yang dalam rapat kerja Kementerian Tenaga Kerja dengan DPR RI menilai, dari segi kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor pariwisata Indonesia paling siap menghadapi MEA.

"Pekerja sektor pariwisata paling siap menghadapi MEA. Standar kompetensinya sudah sama dengan negara-negara lain," kata Menteri Hanif, Jumat (8/1) lalu.

Hanif memberikan contoh kecil, standardcleaning service di hotel A pasti sama dengan hotel B di negara lain. Hanif juga menegaskan, kesiapan SDM sector pariwisata itu tak lepas dari kerja sama intensif yang terjalin antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pariwisata.

Popy mengatakan, tersebarnya tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor pariwisata di seluruh dunia, juga turut memberikan andil besar dalam terbangunnya kesiapan tersebut.

Hubungan yang intens dengan budaya dan kebiasaan warga dunia, menurut dia, membuat sikap para pekerja pariwisata menjadi terbuka (open minded) dan senantiasa siap untuk berubah menjadi lebih baik.

"Hubungan dan pengenalan budaya dan orang-orang luar juga penting dalam membangun sikap terbuka," ujarnya.

Ketika semua itu kemudian mendapatkan dorongan kuat dari pimpinan tertinggi Kemenpar, efek perubahan yang terjadi di sector pariwisata itu wajar terkesan luar biasa.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas