Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Calon Taruna Akpol Wajib Long March Boyolali - Magelang, Mengapa?

Dalam diklatdasbhara, para calon taruna Akpol melakukan long march dari Bumi Perkembahan Indraprasta, Boyolali ke Seminari Mertoyudan, berjarak 50 km.

Calon Taruna Akpol Wajib Long March Boyolali - Magelang, Mengapa?
/JEPRIMA
Atraksi beladiri yang dilakukan anggota polisi pada upacara peringatan Hari Bhayangkara atau HUT ke-67 Polri di Lapangan Mako Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin (1/7/2013). (Tribun Jakarta/Jeprima) 

Oleh AM Putut Prabantoro*

UNTUK membantu pOLRI dalam menjawab tantangan yang semakin berat, dan sekaligus mewujudh pasukan Bhayangkara sejati, masyarakat perlu mendukung dengan cara yang positiF. 

Memberi apresiasi terhadap polisi, yang baik, bagus, benar dan beprestasi (4B), apa pun pangkatnya akan mengubah persepsi negatip yang selama ini diterima polisi. Salah satu cara apresiasi adalah menggunakan media sosial ataupun media cetak.

Menurutnya, Polri mengambil Bhayangkara Majapahit dan Mahapatih Gajahmada sebagai patron dalm bekerja yang kemudian dituangkan dalam Tribrata. Patron itu kemudian diujudkan pemasangan patung Gajahmada di Mabes Polri. Namun, spirit pasukan Bhayangkara itu belum menjadi way of lifenya Polri.

Nama Bhayangkara muncul ketika Gajahmada dan pasukannya berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti yang ingin melengserkan Jayanegara, Raja Majapahit pada waktu itu.  Bhayangkara Majapahit ini semakin popular karena menjadi tulang punggung pelaksanaan Sumpah Palapa menyatukan nusantara dari Tumasik (Singapura) hingga Seram (Maluku).

Wujud Bhayangkara yang seperti ini harus melibatkan masyaratkan dalam mewujudkannya. Jika Polri sekarang belum mewujudkan pasukan Bhayangkara yang tangguh, masyarakat perlu membantu agar rasa percaya diri Polri kembali. Caranya adalah masyarat perlu memulai memberi apresiasi kepada polisi apapun pangkatnya melalui media sosial ataupun media masa. Ini langkah sederhana tetapi pasti akan memberi efek ganda bagi pengembalian citra polisi.

Langkah awal Polri mengambil jati diri pasukan Bhayangkara, sudah baik. Dalam pendidikan latihan dasar Bhayangkara (diklatdasbhara) yang berlangsung tiga bulan, para calon taruna Akademi Polisi (Akpol) melakukan jalan panjang (long march) dari Bumi Perkembahan Indraprasta, Boyolali ke Seminari Mertoyudan, Magelang, yang berjarak 50 km.

Boyolali dipilih sebagai tempat pendidikan karena memenuhi kriteria latihan berganda (latganda) yakni pembulatan semua latdasbhara dari halang rintang, menembak, SAR dll. Bumi perkemahan tersebut dianggap sangat mendukung latganda yang berlangsung selama satu pekan karena berkontur perbukitan, tanah lapang dan tebing-tebing yang cocok untuk kegiatan dasar SAR.

Sementara Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang dipilih dengan alasan sejarah karena merupakan "rumah bersalin" Sekolah Polisi Negara (SPN) yang kelak kemudian menjadi Akademi Polri dan PTIK.  Seminari Menengah Mertoyudan itu sendiri adalah sekolah pendidikan calon pastor (pemuka agama Katolik) yang telah ada sejak 30 Mei 1912.

Ini merupakan langkah yang baik, karena Polri mengingat sejarah pada 1946 dengan mengadakan Latdasbhara.. Namun demikian tidak cukup mengingat sejarah tahun 1946,  Bhayangkara itu ada  pada abad 14 sehingga dibutuhkan pula upaya untuk menuju ke sana, jika mengambil Bhayangkara Majapahit sebagai patron. 

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Domu D. Ambarita
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas