Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Indonesia Harus Lebih Tegas Terhadap Myanmar

Inisiatif diplomatik Menlu Retno yang tiba di Myanmar saat awal tragedi terakhir Rohingya patut kita hargai

Indonesia Harus Lebih Tegas Terhadap Myanmar
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Aksi massa saat melakukaan aksi unjuk rasa di depan Dubes Myanmar, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/9/2017) lalu. 

Oleh Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional
Dradjad Wibowo

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-Inisiatif diplomatik Menlu Retno yang tiba di Myanmar saat awal tragedi terakhir Rohingya patut kita hargai. Saya melihat Indonesia memang memilih diplomatic engagement (DE) untuk mengatasi tragedi Rohingya.

Tampaknya Kemenlu masih memegang teguh prinsip solidaritas Asean dan keengganan untuk campur tangan terhadap urusan domestik masing-masing negara.Sayangnya, dengan sikap Myanmar saat ini, diplomasi Indonesia berpeluang besar gagal.

Indikasinya pun sudah terlihat sangat jelas sekarang. Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi (ASSK) serta pemerintah dan militer Myanmar tetap membiarkan, melanjutkan tindakan brutal militer Myanmar terhadap rakyatnya sendiri dari etnis Rohingya.

Kenapa berpeluang besar gagal? Karena pertama, skala dan intensitas tragedi Rohingya sudah sangat serius. Rohingya sudah menjadi urusan regional dan internasional, bukan lagi hanya urusan domestik Myanmar.

Ini karena lebih dari 120 ribu pengungsi terusir dari kampung halamannya di Rakhine ke Bangladesh dalam dua minggu terakhir. Ribuan lagi lari ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Itu perkiraan yang konservatif. Angka lain menyebut di atas 200 ribu pengungsi terusir.Selain itu, berbagai kalangan internasional sudah menyebut tragedi tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

William Schabas, Profesor Hukum Internasional di Middlesex University, Inggris, mengatakan dia tidak ragu lagi bahwa apa yang terjadi terhadap etnis Rohingya sudah tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan .

Dalam tulisannya itu, John Haltiwanger memberitakan bahwa pejabat- pejabat teras PBB pun menilai tragedi tersebut sebagai pembersihan etnis (ethnic cleansing).

Diplomasi Indonesia hanya berhasil jika minimal dua syarat terpenuhi. Yaitu, Myanmar melihat ada manfaat material dan prestise dari dunia internasional untuk mengubah kebijakannya terhadap etnis Rohingya.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas