Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Islam, Negara, dan Anomali Politik Jokowi

Apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan road show ke pelbagai Pondok Pesantren belakangan ini merupakan anomali tindakan politik

Islam, Negara, dan Anomali Politik Jokowi
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
KULIAH UMUM - Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi)  memberikan kuliah umum bertajuk Islam Nusantara dan Keutuhan NKRI Untuk Mewujudkan Indonesia Damai di Gedung Bundar Al-Asy'ari, Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (29/3/2018). 

Syamsuddin Radjab
(Dosen Hukum Tata Negara UIN Alauddin Makassar dan Direktur Eksekutif Jenggala Center)

TRIBUNNERS - Dalam konteks sejarah, hubungan Islam dan Negara dalam wacana politik ke-Indonesiaan sejak perumusan dasar negara sampai pada dua setengah dasawarsa di bawah pemerintahan Orde Baru penuh ketegangan, intimidasi dan kooptasi.

Islam sebagai agama yang merupakan tuntunan hidup bagi para pemeluknya memiliki nilai-nilai universalitas termasuk wilayah politik-kenegaraan.

Syamsuddin Radjab
Syamsuddin Radjab (Istimewa)

Agama mengutamakan moral, peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan, sementara politik beorientasi pada kekuasaan dan polarisasi berdasarkan kepentingan individu dan kelompok.

Baca: Bantah Ditangkap KPK, Bupati Bandung Barat: Mereka Hanya Minta Klarifikasi

Dalam Islam, agama dan negara tidak terpisahkan, namun tidak berarti bahwa keduanya identik. Karena itu agama dan negara dalam Islam, meskipun tidak terpisahkan namum tetap dapat dibedakan. Tidak terpisah, namun berbeda dan ini diyakini sebagaian besar umat Islam.

Baca: 6 Fakta Menarik Usai Persija Jakarta Vs Johor Darul Tazim, Aksi Simic Hingga Peluang Lolos

Hal demikian diakui oleh Vera Micheles Dean (1903-1972), seorang ahli politik kelahiran Rusia berkebangsaan Amerika Serikat bahwa Islam di dalamnya terdapat tata sistem hidup yang komprehensif tidak hanya memuat ajaran-ajaran teologis tetapi juga terkandung ajaran sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, sejarah dan budaya.

Kohesivitas

Agama dan negara dalam sejarahnya pun amat memiliki hubungan erat dan tidak dapat dipisahkan. Agama membutuhkan kekuasaan negara sebagai jaminan dalam menjalankan ajaran-ajaran ketuhanan bagi umatnya, sedangkan negara membutuhkan agama sebagi legitimasi bahwa keputusan yang dilahirkan mengandung nilai-nilai kebenaran, keadilan sehingga dapat dipatuhi oleh rakyat.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Malvyandie Haryadi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas