Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Pasca Bencana Palu dan Donggala: Waspada Wabah Penyakit

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), angka korban meninggal sudah mencapai 1.950 jiwa yang tersebar di Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong s

Pasca Bencana Palu dan Donggala: Waspada Wabah Penyakit
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Warga mengantri untuk mendapatkan air bersih didepan rumah jabatan Wakil Walikota di Jl Balaikota, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). Pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang kota palu dan sekitarnya pada Jumat 28 September 2018 mengakibatkan pembangkit listrik dan distribusi air terhambat karena tertimpa bangunan yang roboh akibat gempa.. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

BENCANA GEMPA bumi disertai tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) lalu memang menyisakan duka yang mendalam.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), angka korban meninggal sudah mencapai 1.950 jiwa yang tersebar di Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong serta Pasangkayu/Mamuju Utara.

Jumlah korban jiwa tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena proses evakuasi masih terus berlangsung.

Luas daerah yang terdampak bencana gempa dan tsunami Palu lebih dari 350 hektar, di antaranya yang sudah dirilis secara resmi oleh BNPB dan Lapan adalah 180 hektar di Petobo, 202 hektar di Jono Oge, dan 47,8 hektar di Balaroa.

Ketiga wilayah tersebut menjadi sorotan dunia dikarenakan merupakan wilayah pemukiman warga yang dianggap ‘hilang’ akibat gempa dan sapuan lumpur tsunami. Luasnya daerah yang rusak akibat bencana tersebut membuat korban terdampak mengungsi ke wilayah lain, seperti Kabupaten Mamuju.

Tercatat pada tangal 5 Oktober 2018, Kabupaten Mamuju menerima pengungsi sebanyak 4.257 orang.

Kondisi miris akibat bencana alam, seperti fasilitas, sarana, dan prasarana yang rusak, akses yang sulit untuk listrik, air bersih, sanitasi, maupun makanan, serta tempat pengungsian yang penuh dan tidak ideal, membuat penyakit menular mudah menyebar dan menginfeksi korban.

Berbagai studi mengenai penyakit akibat bencana alam menunjukkan bahwa fase klinis atau fase yang paling tinggi tingkat penyebaran penyakitnya dalam sebuah bencana adalah fase pasca bencana dan fase pemulihan bencana.

Pada dasarnya, bencana memiliki 3 fase, yaitu fase sesaat setelah bencana (1-4 hari), fase pasca bencana (4 hari hingga 1 bulan), dan fase pemulihan (lebih dari 1 bulan). Pada fase pasca bencana, penyakit menular yang mudah menginfeksi adalah penyakit menular akibat udara, air, dan makanan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kondisi pengungsian yang buruk. Sedangkan, pada fase pemulihan bencana, penyakit infeksi dengan periode inkubasi yang lama mulai tampak jelas gejela klinisnya. Pada fase ini penyakit yang menjadi endemi di suatu kawasan dapat menjadi epidemi akibat perpindahan pengungsi dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas