Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Pilpres 2019

Yusril Mendadak Dukung Jokowi-Maruf Amin, Ini Kemungkinan Alasannya

Ada pertanyaan menarik kenapa Prof Yusril Ihza Mahendra berubah 180 derajat beralih mendukung dan menjadi tim pengacara Jokowi-Maruf Amin?

Yusril Mendadak Dukung Jokowi-Maruf Amin, Ini Kemungkinan Alasannya
Theresia Felisiani/Tribunnews.com
Yusril Ihza Mahendra 

Dikirimkan oleh Saiful Huda Ems, Advokat dan penulis yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Harimau Jokowi (Harjo).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada pertanyaan menarik dari seorang perempuan di salah satu WAG yang ditujukan pada saya, kenapa Prof Yusril Ihza Mahendra berubah 180 derajat beralih mendukung dan menjadi tim pengacara Jokowi-Maruf Amin?

Ini pertanyaan yang mengundang selera saya untuk kembali menulis dan mengupas analisa saya tentang perubahan sikap politik seseorang yang baru kemarin bersebrangan dengan Jokowi tapi kemudian hari ini tiba-tiba berbalik mendukung Jokowi bahkan rela menjadi pengacara Jokowi tanpa dibayar.

Begini menurut pendapat saya, pertama, Yusril Ihza Mahendra bukan karena takut menghadapi tantangan debat saya, memangnya saya ini siapa?

Saya hanyalah pencari ilmu biasa yang masih memiliki banyak kekurangannya.

Masih banyak hal yang belum saya ketahui dari ilmu pengetahuan yang Tuhan tebarkan di bumi ini, kecuali hanya sedikit saja.

Yusril Ihza Mahendra berbalik mendukung Jokowi pasti karena ada alasan yang lebih tepat yakni Prof Yusril sudah tau kemana arah kemenangan dalam pilpres 2019 nanti yaitu di pihak Jokowi-Maruf Amin.

Bagi Yusril Ihza Mahendra yang merupakan petualang politik itu sangatlah mudah membaca peta politik, sebagaimana ia tahu bahwa partainya (PBB) akan kembali menjadi partai gurem di pemilu 2019 hingga beliau harus mendapatkan kepastian untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi menteri lagi kan lumayan.

Kedua, Yusril Ihza Mahendra selalu saja bertahan mendirikan partai politik sektarian, primordial yakni partai politik Islam.

Yusril Ihza Mahendra sepertinya masih tidak bisa mengerti apalagi memahami bahayanya menjadikan agama sebagai tunggangan meraih kekuasaannya, meskipun selalu berakhir kalah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas