Laporan wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia
Darmin Nasution menegaskan bank sentral berupaya menjaga nilai tukar
tidak berada dibawah level Rp 9.000 per dolar AS.
Penegasan itu
disampaikan Darmin ketika memberikan paparan dalam proses fit and proper
test (uji kelayakan dan kepatutan) sebagai calon tunggal gubernur BI di
depan anggota Komisi XI (Komisi Keuangan) DPR RI gedung DPR/MPR RI
Jakarta, Rabu (21/7/2010).
"Kurs yang optimal Rp 9.100- Rp 9.150 per
dolar AS. Kita tidak memaksakan nilai tukar turun (dibawah Rp 9.000 per
dolar AS) atau naik lebih jauh sehingga kita harapkan optimal dari
berbagai segi," kata Darmin.
Menurut Darmin BI menetapkan istrumen
yang tepat dengan sikap kehati-hatian untuk menjaga stabilitas nilai
tukar sebab belakangan ini capital inflow (aliran
modal masuk) membanjiri pasar modal dan pasar uang.
"Meski kita
harapkan (capital inflow) tidak memasuki SBI (Sertifikat Bank Indonesia)
yang sifatnya spekulatif namun terutama masuk ke Surat Utang Negara
(SUN)," kata Darmin.
Dijelaskan kondisi ini membuat persediaan valas
(valuta asing) domestik naik sehingga menekan nilai tukar rupiah ke arah
penguatan signifikan. "Kalau BI tidak aktif sejak bulan lalu nilai
tukar rupiah akan lebih kuat lagi," kata Darmin.
Dikatakan nilai
tukar harus dijaga pada level yang sesuai sehingga tidak merugikan
eksportir dan importir.
Di kalangan importir dan konsumen nilai tukar
yang menguat menguntungkan sebab harga barang impor akan lebih murah.
"Namun dikalangan eksportir tidak terlalu suka karena penerimaan mereka
akan turun," kata Darmin.
Oleh karena itu, kata dia, perlu dicari
nilai tukar yang sesuai dan tidak merugikan baik eksportir maupun
importir.
Darmin : BI Jaga Nilai Tukar Tidak Dibawah Rp 9.000
Editor: Toni Bramantoro
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan