TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Program Fasilitas Likuditias Pembangunan Perumahan (FLPP) pada tahun 2010 sampai 2014 menargetkan ada 1,35 juta unit rumah yang bisa diberikan subsidi. Namun sampai sekarang rumah subsidi hanya ada 200 ribu unit.
Hal ini terjadi karena pihak Bank Tabungan Negara masih ingin menaikan bunga kredit cicilan rumah sebesar 8,22 persen. Hal itu jelas tak sesuai dengan keinginan Kementerian Perumahan Rakyat yang ingin menetapkan bunga kredit rumah sebesar 5 persen sampai 6 persen.
"Bunga yang ditawarkan BTN paling tinggi dibandingkan dengan bank-bank yang lain," ujar Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis, Rabu (8/2/2012).
Kalau belum mendapat kesepakatan mengenai bunga rumah, Harry menilai hal itu bisa mempengaruhi penjualan dan pembiayaan rumah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Ini harus diselesaikan. Kalau nggak nanti mempengaruhi target sasaran pembiayaan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),"jelas Harry.
Baca tanpa iklan