TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Maskapai penerbangan Lion Air menunda rencananya melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) tahun ini. Rencana Go Public Lion Air yang semula ditargetkan meraih dana satu miliar dollar AS atau sekitar Rp 9 triliun ini ditunda karena kondisi pasar yang masih bergejolak terpengaruh krisi global.
"Kami tidak bisa melaksanakan IPO tahun ini karena krisis keuangan, tidak terlalu bagus," ungkap CEO Lion Air Rusdi Kirana seperti dilansir reuters.com, Senin (13/2).
Menurut Rusdi, Lion Air akan memastikan masuk ke pasar modal ketika pangsa pasar perusahaan telah mencapai 60 persen. Saat ini pangsa pasar Lion Air mencapai 51 persen. Rusdi memperkirakan, dalam dua tahun ke depan pangsa pasar perusahaan yang dipimpinnya telah mencapai 60 persen. "Kita targetkan dua tahun ke depan pangsa pasar kita sudah mencapai 60 persen," katanya.
Kendati batal melaksanakan IPO tahun ini, Rusdi memastikan Lion Air bisa membayar pesawat Boeing yang telah dipesannya. Menurut Rusdi, dana untuk membayar pesawanan pesawat sudah disiapkan, tanpa harus menunggu uang hasil IPO.
Sebelumnya, Lion Air sempat membuat heboh industri penerbangan nasional. Perusahaan penerbangan yang menggarap pangsa pasar penerbangan murah ini tiba-tiba memesan lebih dari 200 unit pesawat dari raksasa penerbangan, Boeing senilai 21,7 miliar dollar AS. Pembelian itu merupakan rekor terbesar dalam sejarah maskapai penerbangan di Indonesia. Bahkan bagi Boeing sendiri, pesawanan itu merupakan yang terbesar dalam 100 tahun terakhir.
Selain membeli pesawat Boeing, buatan Amerika, Lion Air juga tengah melakukan pembicaraan dengan industri pesawat terbang dari Eropa, Airbus. Lion berencana membeli 10 unit pesawat terbang jarak jauh, tipe Airbus A 330. "Rencananya pesawat itu nantinya akan digunakan untuk membuka rute ke Jepang dan China, " kata Rusdi. (tribunnews/pras)
Baca tanpa iklan