Laporan Sari Oktavia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Turunnya penjualan mobil bekas saat bulan Ramadhan diduga terjadi karena makin maraknya usaha sewa mobil untuk keperluan mudik Lebaran.
"Usaha sewa mobil semakin banyak. Masyarakat makin tertarik dengan sewa mobil dibanding beli mobil bekas," ungkap karyawan bagian pemasaran Mitra Dua Mobil, Didi Suradi.
Sebagian besar showroom penjualan mobil bekas di Margonda Depok merugi setiap bulan Ramadhan. Kerugian itu disebabkan karena turunnya penjualan mobil bekas. "Kalau bulan puasa, pokoknya sepi banget pembeli mobil bekasnya," ungkap Azis, karyawan Rizki Utama Motor yang juga berlokasi di Margonda Depok.
Untuk tetap mendapat perhatian pasar dan mendapatkan keuntungan, beberapa strategi dicoba dijalankan oleh berbagai showroom penjualan mobil bekas. "Kami harus pintar-pintar membeli mobil kemudian mengubahnya menjadi lebih bagus sehingga masyarakat tertarik," ungkap Didi.
Showroom penjualan mobil bekas ini biasanya membeli mobil dari daerah Jakarta dan sekitarnya dengan menggunakan jasa makelar atau calo. Selain menggunakan jasa calo, pihak showroom juga akan langsung terjun ke lapangan untuk membeli mobil sesuai permintaan pembeli.
Sesudah membeli mobil, langkah selanjutnya adalah memodifikasi atau mendandani mobil sehingga terlihat lebih bagus. "Ya, biasanya kami bawa ke bengkel. Kalau ada yang lecet, ya dicat lagi, pokoknya didandani ulang sehingga lebih bagus. Tapi yang original atau asli, akan tetap dipertahankan untuk menambah harga jual," ujar Didi.
Selain dengan mendandani mobil sehingga lebih bagus, strategi lainnya yang dilakukan adalah dengan menawarkan beragam sistem pembayaran. "Pembeli mobil bekas bisa membeli secara cash atau langsung maupun dengan kredit," ungkap Idrus, karyawan Mobil 99.
Menurut Idrus, showroom telah bekerja sama dengan berbagai lembaga leasing (penyewaan) seperti Bank Mandiri, BCA, Oto, BFI Finance, Adira, dan masih banyak lagi. Dengan menggunakan sistem kredit, pembeli diberi kesempatan untuk membayar mobil bekas yang dibeli dalam jangka waktu yang cukup lama mulai dari satu tahun hingga empat tahun sesuai kemampuan ekonomi masing-masing. (*)
BACA JUGA:
Baca tanpa iklan