TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Program rumah subdisi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah dengan menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memang tidak bisa mencapai target pada tahun 2012. Target FLPP sendiri mencapai 126.000 unit rumah namun sampai bulan Desember baru mencapai 62.055 unit rumah.
Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat, Sri Hartoyo mengungkapkan kalau pihaknya akan mendorong penyaluran FLPP sampai 7000 unit hingga akhir tahun. Meski hanya punya 7 hari sampai akhir Desember, namun Sri Hartoyo optimis dengan penambahan FLPP.
"Kita ingin mencapai FLPP 70 ribu unit rumah. Bisa nggak dalam waktu 7 hari kita mengejar KPR baru 7000 jadi genap 70 ribu,"ujar Sri Hartoyo dalam diskusi panel dukungan dana jangka panjang dalam membiayai KPR FLPP, Kamis (20/12/2012).
program FLPP KPR Sejahtera merupakan penyaluran pembiayaan dari pemerintah pusat melalui bank pelaksana kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam kepemilikan rumah yang dibeli dari pengembang. Beberapa penyaluran KPR FLPP antara lain KPR Sejahtera Tapak, KPR Sejahtera Syariah Tapak, KPR Sejahtera Susun, KPR Sejahtera Syariah Susun.
Kemenpera telah menetapkan ketentuan harga rumah yang dapat memanfaatkan KPR FLPP berdasar wilayah. Untuk harga rumah KPR Sejahtera Tapak Wilayah I Seperti Sumatera selain Batam, Bintan, Karimun, Jawa selain Jabodetabek dan Sulawesi harganya paling tinggi Rp 88 juta.
Wilayah II Kalimantan, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara paling tinggi Rp 95 juta, wilayah III Papua dan Papua Barat paling tinggi Rp 145 juta dan Wilayah Khusus Jabodetabek, Batam, Bintan, Karimun dan Bali Rp 95 juta. Sedangkan KPR Sejahtera Susun Rp 216 juta. (*)
BACA JUGA:
Baca tanpa iklan