News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Alokasi Pupuk Urea Jambi Hanya 2.200 Ton

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Buruh angkut di Pelabuhan Panjang Bandar Lampung mengangkut pupuk urea bersubsidi warna pink ke atas mobil, Rabu (25/7/2012). PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Lampung akan secara resmi mengganti kemasan (karung) pupuk urea bersubsidi warna pink awal Agustus mendatang. Kemasan baru ini tidak lagi berlogo PT Pusri melainkan mengusung nama baru PT Pupuk Indonesia (Persero) Group. Alasan digunakannya nama baru tak lain terobosan yang dilakukan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan melebur perusahaan pupuk nasional menjadi satu nama saja yakni PT Pupuk Indonesia (Persero) Group. Tribun Lampung/Perdiansyah

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Tahun ini Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Jambi mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi jenis urea sebanyak 2.200 ton. Jumlah itu turun hampir 50 persen dibanding tahun lalu.

Menurut Direktur Puskud Jambi, Handoyo, pada 2012 alokasi urea mencapai 5 ribu ton. Walaupun dari kuota tersebut yang terserap hanya 3 ribu ton.

"Pupuk yang akan diterima Puskud ini merupakan pupuk urea bersubsidi dari produsen Pusri Dari jumlah tersebut baru 15 ton yang sudah ditebus, yang lainnya masih dalam proses," kata Handoyo kepada Tribun Jambi (Tribun Network), Senin (11/2/2013).

Sebanyak 2.200 ton pupuk urea itu akan didistribusikan di tiga kabupaten/kota, yakni Tanjabtim, Muaro Jambi dan Kota Jambi. Saat ini pupuk tersebut sudah mulai didistribusikan.

Setiap daerah tersebut mendapatkan jatah yang berbeda, ada yang 900 ton, 600 ton serta 300 ton tergantung dari kebutuhan masing-masing daerah. Menurutnya kebutuhan pupuk Puskud Jambi bisa melebihi 2.200 ton, bahkan tahun 2011 pernah mencapai penjualan 20 ribu ton.

Disampaikan Handoyo, dari 2.200 ton urea tersebut tingkat penebusannya sekitar 60 persen.

"Yang jelas pupuk bersubsidi banyak untuk pangan, hampir 70 persen. Sedangkan di sini adanya perkebunan rakyat sehingga kurang tepat," katanya.

Ia juga menyinggung soal realokasi pupuk dari pangan ke sektor perkebunan rakyat. Pasalnya, realokasi itu dilakukan di bulan Oktober dan kadang justru efektif pada November dan Desember.

"Kalau pas harga TBS turun orang tak mau beli. Seperti tahun kemarin hanya tercapai 60 persen penjualan," katanya. (hdp)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini