TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Sinar matahari pagi menyinari kebun jeruk garut milik Dede Sobur (38) di Kampung Cioyod, Desa Mekarjaya, Kecamatan Bayongbong. Kulit jeruk-jeruk garut yang berwarna hijau dan kuning mengkilat membuatnya terlihat bersinar, memantulkan sinar matahari pagi.
Senin (25/2) pagi, jeruk-jeruk garut yang telah masak itu siap dipanen. Seorang distributor buah-buahan pun telah menunggu Dede di depan kebunnya. Setelah bersepakat dengan Dede mengenai harga jualnya, distributor ini memanen jeruk-jeruk garut Dede.
Tidak semua jeruk garut bisa dipanen saat itu juga. Pembeli hanya bisa memetik jeruk yang sudah ranum dan berukuran cukup besar. Jeruk yang berwarna hijau tua belum bisa dipanen dan dibiarkan tumbuh untuk dipanen beberapa hari setelahnya.
Menggunakan gunting stek, jeruk-jeuk garut pilihan dipetik. Kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah keranjang anyaman bambu. Semakin banyak jeruk yang dipetik, semerbak harum jeruk garut kian mengisi atmosfir kebun jeruk Dede.
Jeruk Garut memang memiliki keistimewaan dibandingkan jeruk jenis lainnya seperti jeruk siam atau konde. Saat dikupas, keharumannya langsung menyeruak. Saat dikunyah, bulir-bulir jeruknya sangat terasa seperti pecah satu per satu di dalam mulut.
Selain aromanya yang sangat wangi, rasa jeruk garut masak sangat manis tanpa meninggalkan rasa pahit di lidah. Semakin kuning warna jeruknya, semakin manis rasanya. Saking manisnya, jeruk garut berwarna oranye disebut sebagai jeruk garut si madu.
"Saya beruntung bisa panen saat kebun jeruk lainnya gagal panen karena tidak tahan cuaca ekstrem. Sebab, saat ada pohon yang terkena penyakit, saya langsung membabatnya," kata Dede saat ditemui di kebunnya, Senin (25/2).
Dede memiliki 40 pohon jeruk garut yang dapat menghasilkan 2,5 ton jeruk garut sekali panen. Pohon-pohon jeruknya dipanen setiap Februari sampai Juni dan akan berbunga lagi Oktober.
Sekali panen, ucapnya, Dede mendapat omzet sebesar Rp 25,5 juta. Setiap tahun, Dede hanya mengeluarkan biaya perawatan sebesar Rp 5 juta. Di pasaran, jeruk garut menjadi salah satu buah lokal termahal. Satu kilogram jeruk garut biasanya dijual Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu.
Dede mengatakan perawatan pohon jeruk garut memang jauh lebih sulit daripada perawatan jeruk jenis lainnya. Karenanya, hanya sedikit petani di Kabupaten Garut yang masih mempertahankan pelestarian dan bisnis jeruk garut.
Karena itu walaupun menjadi salah satu ikon paling terkenal bagi Kabupaten Garut, jeruk garut kini di ambang kepunahan. Warga semakin enggan menanam pohon jeruk yang sangat manja ini.
"Saya harap pemerintah bisa memberikan pembinaan kepada para petani supaya bisa mengembangkan jeruk garut lagi. Jangan sampai jeruk garut musnah dari kampung halamannya," kata Dede.
Baca tanpa iklan