News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rupiah Kembali Melemah

Editor: Budi Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

I;ustrasi menghitung uang

TRIBUNNEWS.COM YOGYA,  - Dalam satu minggu belakangan ini, kurs USD - IDR kembali diperdagangkan pada sekitaran Rp 9.750 hingga Rp 9.800. Kondisi ini, menurut OCBC Treasury Research & Strategy OCBC Bank Singapore, Gundy Cahyadi, didorong oleh penguatan USD yang mendominasi pasar mata uang dunia.

"Menguatnya USD ini telah terjadi karena investor sendiri telah mengantisipasi bahwa bank sentral Fed akan segera mengakhiri program QE3-nya, di saat yang bersamaan di mana bank-bank sentral dunia lainnya masih terus menambah jumlah dana yang tersedia di program quantitive easing-nya," paparnya pada Rabu (22/5/2013).

Pihaknya memperhatikan, dalam pergerakan nilai mata uang di EM Asia terhadap USD sejak akhir tahun 2012 lalu, pergerakan rupiah tidak terlalu buruk. Rupiah tercatat menguat sekitar 0,20 persen terhadap USD, hanya lebih buruk setelah THB, CNY, dan MYR di EM Asia. Namun yang menjadi masalah adalah melemahnya rupiah lebih dari 7 persen pada tahun 2012, jauh dari -3,5 persen yang dicatat Indian Rupee sementara semua mata uang EM Asia lainnya malah menguat terhadap USD. "Kenyataannya, rupiah masih mempunyai banyak ruang untuk melakukan catch up," terangnya.

Secara teori, ia juga melihat bahwa rupiah masih terkesan undervalued terhadap USD dengan besaran sekitar 10 persen saat ini. Sentimen rupiah di market juga masih terlihat sangat lemah karena adanya kecemasan mengenai current account defisit di Indonesia yang mungkin bersifat struktural. Dalam proyeksinya yang terbaru, IMF memprediksi bahwa current account defisit akan terus terlihat di Indonesia hingga lima tahun ke depan.

"Hal ini membuat investor sedikit ragu mengenai prospek rupiah pada jangka waktu medium, mengingat posisi current account merupakan satu ukuran fundamental yang sangat penting untuk trajektori nilai mata uang negara tertentu," katanya.

Menanggapi kondisi ini, lanjutnya, Menteri Keuangan RI, Chatib Basri beberapa waktu lalu menyatakan priorotas kerjanya untuk menjaga kestabilan rupiah di market. Bank Indonesia juga telah menunjukkan tanda-tanda akan menaikkan intensitasnya dalam melakukan aktivitas smoothinh di market. "Intinya, stabilitas merupakan kunci dan tidak ada target USD - IDR di level mana pun, mengingat sentimen investor global sendiri akan menjadi fkator yang paling menentukan pergerakan USD ke depan," jelasnya.

Pada saat yang bersamaan, ia berpendapat adanya tesiko yang besar terhadap prospek perekonomian Indonesia, jika sentimen market terhadap rupiah akan terus melemah. Data pertumbuhan ekonomi Triwulan I yang tercatat sedikit mengecewakan di 6,0 persen yoy, menurutnya, telah menunjukkan kesan adanya dampak-dampak yang negatif dari melemahnya rupiah terhadap laju pertumbuhan konsumsi dan juga investasi dalam negeri. Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan kalau mengingat pertumbuhan impor sendiri yang telah melemah cukup signifikan pada beberapa bulan terakhir.

"Nilai rupiah yang melemah telah menurunkan daya beli konsumen dan juga pemilik usaha di Indonesia," sambungnya.

Sementara dari sisi ekspor, pelemahan rupiah tidak terlalu berpengaruh karena kebanyakan barang-barang yang diekspor dari Indonesia adalah komoditas. Karena barang komoditas, maka secara fundamental cenderung lebih price inelastic, yang berarti tingkat konsumsinya tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga. Kalau memang recoveri perekonomian dunia masih belum terlihat mantap, maka ada kemungkinan yang sangat besar kalau laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi akan terus menurun, ditambah rupiah yang masih terus melemah. "Karenanya, komitmen dari pemerintah dan BI untuk terus menjaga kestabilan rupiah di market untuk menghindari perlemahan yang cenderung excenssive, bisa dipercayai," lanjutnya.

Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menurutnya merupakan satu perkembangan yang positif untuk macro risk profile Indonesia, dan bisa jadi membantu posisi current account defisit Indonesia, setidaknya pada jangka waktu dekat ini. Yang lebih penting, sambungnya, adalah berupaya memonitori program- program yang akan diumumkan pemerintag untuk mendongkrak peningkatan produktivitas dalam negeri, terutama di sektor manufaktur atau industri. (gya)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini