TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pemerintah belum memutuskan dan memberlakukan kenaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Kendati demikian, indikasi kenaikan itu terlihat pada pernyataan Wakil Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Susilo Siswoutomo.
Isinya, kemungkinan besar, harga BBM bersubsidi naik pascatuntasnya pembicaraan dan pembahasan APBN Perubahan 2013. Diperkirakan, pembahasan itu selesai pada Juni.
Tentunya, kenaikan tersebut dapat memicu kemungkinan terjadinya inflasi. Kemungkinan naiknya harga jual pun dinyatakan pabrikan otomotif di tanah air.
"Kami bersiap menaikkan harga jual jika harga BBM positif naik. Kenaikan itu karena biaya operasional dan produksi pun meningkat," kata Bansar Maduma, Area Manager Departemen Head PT Toyota Astra Motor (TAM), di sela peluncuran All New Avanza Velos di Hotel Harris, Jalan BKR Bandung.
Bansar menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pengkajian dan kalkulasi. Menurutnya, naiknya harga jual produk PT TAM sangat bergantung pada efek kenaikan harga BBM.
Bansar mengemukakan, seandainya pada Juni 2013, pemerintah tuntas membahas APBN Perubahan, dan lalu positif memberlakukan kenaikan harga BBM bersubsidi, pihaknya segera menaikkan harga jual.
"Maksimalnya, kenaikan harga jual produk itu kami gulirkan pada bulan berikutnya, atau sekitar Juli 2013," katanya.
Bansar juga mengatakan, secara umum adanya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi, proyeksi kinerja dan penjualan dunia otomotif nasional, baik sepeda motor maupun kendaraan roda empat, dapat terkoreksi.
Perkiraannya, kenaikan itu dapat membuat terjadinya perubahan segmentasi dan varian kendaraan.
"Kami kira, kabar masyarakat lebih memilih kendaraan yang efisien, artinya irit BBM. Akan tetapi, memiliki kemampuan maksimal, seperti daya angkut, serta tanpa mengurangi kenyamanan dan keamanan berkendara," paparnya.(win)
Baca tanpa iklan