News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rupiah Terpuruk

Rupiah Melemah, BI Rate Harus Naik

Penulis: Arif Wicaksono
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang kasir BNI Syariah cabang Jakarta Pusat, tengah menghitung uang, Selasa (20/8/2013). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat diperdagangkan di level Rp 10.400 pada pagi tadi kini bergerak liar hingga level Rp 10.700. Pihak BNI pun mematok harga jual di Rp 10.950 per dolar AS. TRIBUNNEWS/HERUDIN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harry Su, Head of Equity Research Bahana Securities, memprediksi nilai tukar rupiah bisa dijaga dengan catatan BI Rate juga dinaikkan.

Untuk menjaga rupiah, Harry mengatakan, BI Rate bisa dinaikkan sebesar 25 basis poin dari posisi 6,50 basis poin pada tahun ini.

"Masalah utamanya adalah makro lagi jelek dan isu stimulus The Fed menguat, makanya BI harus berani menaikkan BI rate," ujar Harry, Rabu (21/8/2013).

Harry menuturkan, defisit perdagangan tidak cukup baik dalam mengatasi pelemahan mata uang rupiah. Dengan memburuknya perekonomian global maka ekspor akan berkurang sedangkan impor terus bertambah banyak.

"Jadi memang semestinya BI Rate dinaikkan, kita harapkan rupiah dapat menguat kembali dengan naiknya BI Rate, jadi kita harapkan tidak berada prediksi beberapa analis sebesar Rp 12.000 per dollar AS, kami prediksi akan berada di level Rp 10.300 pada akhir tahun ini," katanya.

Kisaran level Rp 10.300 akan dijaga dengan bauran kebijakan lainnya yang dilakukan BI seperti menggunakan cadangan devisa. Selain itu, didukung pula dengan dengan membaiknya defisit neraca berjalan seiring dicabutnya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Juli lalu.

Kenaikan BI Rate diprediksi akan mendongkrak rupiah karena akan menekan jumlah peredarannya.

Budi Hikmat, Chief Economist and Director for Investor Relation Bahana TCW Investment Management, menilai meskipun BI Rate naik, strategi ini bukanlah merupakan solusi utama karena akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya kinerja emiten akan ikut menurun. Situasi kronis ini harus dihadapi Pemerintah Indonesia untuk bertahan di tengah pertumbuhan ekonomi global yang kian memburuk.

"Data pertumbuhan ekonomi pasti menurun, yang pasti penurunannya menjadi berapa ? Ini yang kita harus waspadai bagaimana penurunannya dengan negara lainnya, jika kenaikan BI rate tidak menimbulkan dampak yang besar bagi pertumbuhan ekonomi itu bagus," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini