News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dilarang Impor Minyak Ron 88, Pertamina Bisa Hancur

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah warga berebut untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dengan membawa jeriken di SPBU di Jalan Gajah Mada, Medan, Sumatera Utara, Senin (17/11/2014) malam. Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi untuk jenis premium dan solar sebesar Rp 2.000 per liter, sehingga harga premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 per liter, berlaku sejak Selasa 18 November 2014 pukul 00.00 WIB. TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim reformasi tata kelola migas merekomendasi pelarangan impor minyak jenis Ron 88. Tim yang diketuai Faisal Basri rencananya meminta semua impor harus berjenis Ron 92.

Menanggapi hal tersebut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI), Faisal Yusra, menilai PT Pertamina (Persero) bisa merugi sangat besar jika impor Ron 92 langsung diterapkan.

"Penghapusan Premium RON 88 jika dilakukan tanpa bertahap, sangat berpontensi menghancurkan bisnis BBM (bahan bakar minyak, red) Pertamina," ujar Faisal Yusra, Senin (22/12/2014).

Penghapusan Ron 88 tanpa dilakukan secara bertahap, menurut Faisal, sama juga dengan pemerintah memberi angin dan memberi peluang bisnis ke pihak asing. "Karena itu rekomendasi TRTKM. harus dikaji lebih dalam dan secara bijak oleh Pemerintah," papar Faisal.

Faisal menjelaskan pemerintah tahu kilang Pertamina adalah kilang tua yang hanya mampu hasilkan Produksi RON 92 - 96 sebesar 200.000 barrel per bulan. Disamping Ron 92, kilang Pertamina juga menghasilkan Naptha dengan Ron sekitar 75 sejumlah 3.5 juta barel per bulan.

"Naptha merupakan material pokok yang akan dicampur dengan Ron 92 sehingga menjadi Premium Ron 88," jelas Faisal.

Faisal mengungkapkan, Ron 92 yang dihasilkan Kilang Pertamina terbatas, maka perlu diimpor Ron 92. Hal Ini akan justru akan menaikkan cost produksi BBM Pertamina.

"Jika premium RON 88 dihilangkan, maka product valuable kilang Pertamina jadi jeblok, hancur," kata Faisal.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini