News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga BBM

Kurtubi Dukung Pemerintah Turunkan Harga BBM

Penulis: Yulis Sulistyawan
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi SPBU

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  NasDem mendukung rencana pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Hal itu dengan melihat posisi harga crude 50 dolar per barel, dengan nilai kurs rupiah 15.000 per dolar, maka BPP BBM menjadi sekitar Rp 6.600 per liter.

"Ada ruang untuk menurunkan harga BBM sebesar Rp 1.000 per liter," demikian dikatakan Kurtubi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/10/2015).

Anggota Komisi VII ini menilai, jika pemerintah menurunkan harga BBM maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab harga BBM yang turun akan meningkatkan daya beli masyarakat, kendati di tengah kelesuan ekonomi dunia saat sekarang.

"Yang pasti akan meningkatkan konsumsi sekaligus pertumbuhan ekonomi. Dan yang jauh lebih penting lagi karena saat ini belanja dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta government spending pemerintah sudah mulai cair," terangnya.

Kurtubi melanjutkan, seiring dengan terus anjloknya harga minyak mentah dunia, yang bisa dilakukan oleh pemerintah tidak hanya menurunkan BBM.

Harga gas dan tarif listrik  juga harus turun, karena batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan BBM untuk Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Diesel (PLTD) juga sudah lama turun.

Menurutnya, jika ini di lakukan maka industri akan tumbuh lebih bagus dalam menciptakan lapangan kerja baru. Sehingga, pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2016 sudah bisa di atas 5 persen, dan bisa saja pertumbuhan 6 persen berpeluang.

"Pertumbuhan ekonomi menembus 6 persen, mengapa tidak," tuturnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, rencana pemerintah menurunkan harga BBM harus dengan perhitungan yang tepat, bukan karena popularitas semata. Pernyataan Agus terakhir ini mendapat kritikan banyak‎ pihak karena dinilai tidak etis.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini