News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Perusahaan Mutiara di Indonesia Berkurang Drastis

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Fajar Anjungroso
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Para model saat berjalan diatas catwalk mengenakan koleksi busana rancangan Ivan Gunawan dan perhiasan dari Passion Jewelry pada acara perkenalan desain perhiasan baru di Summarecon Mall, Tanggerang Selatan, Sabtu (29/10/2016). Pada kesempatan itu Ivan Gunawan memperlihatkan desain kalung, cincin dan anting yang di balut dengan mutiara emas yang dipadupadankan dengan berlian. Tribunnews/Jeprima

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak perusahaan yang bergerak dalam produksi mutiara "kabur".

Ketua bidang hubungan antar kelembagaan dan luar negeri Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI), Raditya Poernomo, mengatakan saat ini hanya sekitar 32 pedagang dan investor yang fokus di hasil alam mutiara.

Jumlah tersebut sudah termasuk investor dari luar Indonesia atau penanaman modal asing (PMA).

"Ada sekitar 30-an pedagang sama investor, investor perusahaanya yang aktif ada 5 itu pma ataupun swatsa nasional ada, jumlahnya ada 32 perusahaan yang aktif di ASBUMI, sisanya gulung tikar," ungkap Raditya Poernomo, di Menara Kadin, Selasa (7/2/2017).

Raditya memaparkan dulunya ada 86 perusahaan termasuk 21 PMA yang bergerak di bidang produksi.

Namun karena adanya permasalahan alam seperti pembakaran dari rumah dan pabrik yang dekat dengan lokasi budidaya sehingga membuat kualitas mutiara jelek, para pengusaha rugi dan memilih meninggalkan usaha di bidang mutiara.

"Tadinya 86, PMA ada 21, lalu pma tinggal 8 karena miss manajemen, bakar rumah bakar pabrik dekat lokasi, jadi investor lari," ucap Raditya Poernomo.

Alasan lainnya adalah masih belum adanya regulasi atau standar khusus mengenai mutiara di Indonesia, sehingga harga mutiara saat dijual sangat rendah dibandingkan negara-negara lain.

"dan regulasinya, kenapa di Myanmar pas lelangnya di London tinggi melebihi Indonesia, dari Myanmar di jual ke London hasilnya bisa tinggi, itu lelang tahun lalu," tutur Raditya Poernomo.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini