Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membuka kemungkinan berubahnya analisis investigasi jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, apabila kotak hitam berisi voice cockpit recorder (VCR) ditemukan.
Alat yang merekam percakapan antara awak pesawat dan suara lain dalam pesawat ini memungkinkan KNKT mendapatkan fakta-fakta tambahan dan mengubah temuan investigasi.
"Bisa saja (berbeda). Jadi, bisa saja analisis lain, semua kemungkinan ada. Tapi, apa ada kemungkinan in line (sesuai) dengan yang kita jalankan, bisa saja," kata Koordinator Investigasi Keselamatan Udara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Oni Soerjo Wibowo usai konferensi pers di kantor KNKT, Jakarta, Kamis (29/11/2018).
Saat ini, KNKT masih berupaya menemukan CVR.
Oni menyebutkan tiga strategi baru yang disiapkan KNKT. Pertama, KNKT mendatangkan kapal milik Singapura yang dilengkapi alat yang lebih canggih dari Johor, Malaysia. Kapal tersebut tidak menggunakan jangkar, melainkan sistem dynamic positioning.
Baca: Enam Produk Perawatan Kendaraan Genuine Ini Bikin Mobil Mitsubishi Selalu Oke dan Kinclong
"Kalau kapal digoyang ombak ke kiri, kapal itu bisa menetap di lokasi jadi bisa kembali lagi, sehingga tidak perlu jangkar seperti kemarin," jelasnya.
Kedua, para penyelam kali ini dibekali alat komunikasi khusus agar lebih presisi dan efektif dalam pencarian target.
"Supaya penyelam bisa komunikasi secara live, bisa lihat mereka ngapain di bawah laut, perintahkan ambil ini itu," terangnya.
Kapal ini dilengkapi alat penyedot lumpur untuk mencari CVR yang kemungkinan tertimpun lumpur.
"Kalau disapu, debu naik dan pandangan jadi terbatas, makanya pakai penyedot lumpur, jadi lumpur disedot dipindahkan ke suatu tempat untuk ditampung, jadi kita lihat apa di situ. Syukur-syukur ketemu CVR," ujarnya.
Ketua KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan, pihaknya masih menunggu kedatangan kapal penyedot lumpur dari Singapura tersebut.
"Kita sudah mengajukan proses perizinan berupa operasi di bawah air dan penutupan area di lokasi pencarian. Dua hal ini kita siapkan mudah-mudahan dalam waktu dekat terlakasana semua dan pencarian dimulai," pungkasnya.
Foto: Koordinator Investigasi Keselamatan Udara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Oni Soerjo Wibowo usai konferensi pers di kantor KNKT, Jakarta, Kamis (29/11/2018)