TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT KAI (Persero) akan memperbarui sebanyak 627 gerbong kereta api dan membeli 36 lokomotif baru di 2020 mendatang.
Langkah ini sebagai upaya peremajaan untuk kereta api berusia di atas 30 tahun.
"Kami berkeinginan berikan pelayanan yang lebih baik. Dari sisi kenyamanan, keamanan dan keselamatan perjalanan KA, dan memang sarana atau armada yang kita punya memang sudah perlu diganti. Ada 672 unit (akan diperbarui)," kata Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro usai menghadiri Investor Gathering Obligasi II KAI di Ritz-Carlton SCBD, Jakarta, Senin (11/11/2019).
Baca: Libur Natal Tahun Baru 2020, Penumpang Kereta Diprediksi Naik 4 Persen
Baca: PT KAI Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun untuk Peremajaan Kereta Api
Untuk pembelian lokomotif baru, Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan lokomotif-lokomotif tersebut siap menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti biodiesel atau campuran solar dan 20 persen FAME (B20).
"Lokomotif yang dibeli green energy ready, jadi sudah siap dengan B20. Kita akan moderenisasi ke depan lebih ke arah green energy. Lokomotif kita gensetnya digunakan B20, B30 hingga ada kajian untuk pakai B100," terangnya.
KAI akan membeli dari pabrikan lokal, seperti PT INKA maupun impor. Dia menargetkan lokomotif baru itu sudah bisa dioperasikan di 2021 mendatang.
"Di pipeline ada rencana 36 lokomotif baru di 2020. Semoga bisa signing contract dengan supplier kira-kira perlu 18 bulan, jadi (lokomotif baru) datangnya di 2021 itu untuk angkutan barang," ucapnya.
Adapun untuk pendanaanya, PT KAI berencana menerbitkan obligasi senilai Rp2 triliun. Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan diperuntukan untuk peremajaan kereta api, serta untuk pengadaan sarana baru dan pembaruan sarana.
Dari total Rp 2 triliun, sebesar Rp 1,2 triliun digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman pada PT Bank HSBC Indonesia (tidak terafiliasi), dan sisanya Rp 800 miliar akan untuk pengadaan sarana baru dan pembaruan sarana.
"Kami kembangkan alternatif pembiayaan sifatnya jangka panjang. Obligasi kami terbitkan sejak 2017, tahun ini akan gunakan untuk refinancing kredit perbankan Rp 1,2 triliun ini bridging karena kami peremajaan (berapa kereta) rata-rata Rp 5 miliar 1 kereta. Jadi kami ingin reprofile dari jangka pendek ke jangka panjang," pungkasnya.
Baca tanpa iklan