TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar global yang bergerak hati-hati membuat rupiah melemah.
Mengutip Bloomberg, Rabu (15/1), rupiah di pasar spot ditutup melemah 15 poin atau 0,11% menjadi Rp 13.695 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan. Peso Filipina menjadi mata uang yang terkoreksi paling dalam setelah turun 0,26%.
Dolar Taiwan yang sempat menguat di pagi hari juga melemah 0,07%, disusul won Korea turun 0,06%. Serupa dolar Singapura dan yuan China pun terdepresiasi terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,05%.
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 2 Juta Galon Tetes Tebu Banjiri Boston setelah Tanki Meledak, Tewaskan 21
Baca: Gara-gara Rokok Elektrik, Perempuan 19 Tahun Alami Kerusakan Jaringan Paru-paru Parah
Yen Jepang berhasil mempertahankan keperkasaannya setelah unggul tipis 0,06% terhadap the greenback.
Sementara itu, rupee India dan dolar Hong Kong membalikkan keadaan setelah menguat masing-masing 0,04%.
Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelaku pasar cenderung wait and see jelang kesepakatan dagang antara AS dan China. "Apalagi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan, AS tetap mempertahankan tarif masuk atas barang-barang China sampai perjanjian fase kedua selesai," kata dia.
Hal ini cukup memberi sentimen negatif mengingat, perjanjian fase kedua diperkirakan baru berjalan setelah pemilihan presiden AS kelar.
Untungnya, rupiah punya amunisi dari dalam negeri. Yakni data neraca dagang yang lebih baik dari ekspektasi. Walau masih mencetak defisit neraca dagang 2019 sebesar US$ 3,2 miliar, tetapi ini lebih baik ketimbang defisit neraca dagang 2018 yang mencapai US$ 8,57 miliar.
Lebih lanjut Ibrahim bilang, untuk pergerakan rupiah Kamis (16/1) cenderung melemah. "Ini dampak dari data eksternal. Karena itu, rupiah bakal bergerak di kisaran Rp 13.655-Rp 13.750 per dolar AS," pungkas dia.
Berita Ini Sudah Tayang di KONTAN, dengan judul: Pasar hati-hati, rupiah ditutup melemah 0,11% menjadi Rp 13.695 per dolar AS
Baca tanpa iklan