News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rupiah Ambruk Lagi Sore Ini, Besok Masih Lanjut Melemah?

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer. Dalam perdagangan sore ini, mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 35 poin di level Rp 15.202 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.190 per dolar AS.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dalam perdagangan sore ini, mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 35 poin di level Rp 15.202 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.190 per dolar AS.

Pengamat pasar keuangan sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan, mata uang Garuda akan lanjutkan pelemahannya besok.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif. Namun, ditutup melemah di rentang Rp 15.190 hingga Rp 15.250 per dolar AS," ujar Ibrahim dalam risetnya, Rabu (22/2/2023).

Baca juga: IHSG Diprediksi Kembali Melemah Tertekan Harga Komoditas dan Rupiah 

Dia membeberkan, sentimen eksternal yang memengaruhi pelemahan rupiah, yakni dolar AS rebound atau berbalik arah menguat.

Hal ini imbas hasil yang mengejutkan dalam aktivitas bisnis di Amerika Serikat dan Inggris, di mana meningkatkan kemungkinan bahwa bank sentral masing-masing akan meningkatkan suku bunga lebih jauh.

Data yang dirilis pada hari Selasa, menunjukkan bahwa aktivitas bisnis AS secara tak terduga pulih pada Februari untuk mencapai level tertinggi dalam delapan bulan.

Sementara, Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit cepat Inggris juga melonjak menjadi 53 bulan ini, di atas ambang batas pertumbuhan 50 untuk yang pertama sejak Juli 2022.

"Rebound dalam aktivitas bisnis AS muncul di belakang serangkaian data ekonomi yang tangguh baru-baru ini, menunjukkan pasar tenaga kerja masih ketat, inflasi kaku, dan penjualan ritel kuat di ekonomi terbesar di dunia tersebut," kata Ibrahim.

Sementara dari internal, sentimen yang memengaruhi rupiah adalah investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) diperkirakan bakal menjadi katalis pendukung yang bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

Baca juga: Rupiah Terkapar Terhadap Dolar AS di Penghujung Pekan, Kini di Level Rp15.210

Kemudian, lonjakan investasi domestik dan asing pada 2022, khususnya investasi asing meningkat 47 persen hingga total investasi tercatat di angka Rp1.207,2 triliun pada 2022 dan target 2023 di kisaran Rp 1.400 triliun.

"Adapun untuk arus masuk dana asing, peningkatannya berlangsung secara bertahap dan terjadi di tiga kelompok industri, yakni primer, sekunder, dan tersier. Peningkatan besar terjadi antara 2020 dan 2022 di sektor primer dan sekunder, yaitu pertambangan, industri logam dasar dan barang logam, bahan kimia, selain tersier (real estate dan kegiatan usaha)" pungkas Ibrahim.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini