Ringkasan Berita:
- Hingga kuartal III 2025, Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai eksportir produk rokok dengan nilai ekspor mencapai 1,16 miliar dolar AS.
- Ekspor industri hasil tembakau di 2024 yang menembus 1,85 miliar dolar AS.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap, hingga triwulan III 2025, Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai eksportir produk rokok dengan nilai ekspor mencapai 1,16 miliar dolar AS.
Angka tersebut mulai mendekati capaian ekspor industri hasil tembakau pada 2024 yang menembus 1,85 miliar dolar AS dan naik signifikan dibandingkan nilai ekspor pada 2020 yang berada di kisaran 950 juta dolar AS.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan bahwa rokok elektrik, terutama liquid, ikut memberikan kontribusi besar pada capaian ekspor pada 2024.
"Saya yakin kontribusi dari rokok elektrik liquid ini juga cukup besar karena saya dapat info banyak yang melakukan eksportasi untuk produk-produknya dan produk kita diminati karena banyak cita rasanya," katanya ketika memberi sambutan dalam acara Musyawarah Nasional Perkumpulan Produsen E-Liquid Indonesia (PPEI) di Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2025).
Selain produk rokok konvensional, Indonesia juga tercatat sebagai negara eksportir rokok elektronik peringkat keenam dunia. Nilai ekspor kategori tersebut pada 2025 mencapai 323 juta dolar AS.
Merrijantij menyebut industri hasil tembakau tetap menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar bagi negara melalui ekspor.
Dia menegaskan pentingnya menjaga kekompakan pelaku usaha agar industri tetap solid dan berdaya saing.
Baca juga: Bea Cukai Musnahkan Jutaan Batang Rokok dan Minuman Keras Rp 26,1 Miliar
Ia juga mengingatkan, sektor ini perlu terus menunjukkan kontribusi positif bagi perekonomian dengan tetap menjaga etika, mengedepankan aspek kesehatan, serta meminimalkan dampak aktivitas merokok, baik konvensional maupun elektrik.
Terlebih, industri hasil tembakau saat ini disebut menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Merrijantij mencontohkan kondisi produsen e-liquid yang mengalami penyusutan signifikan. Dari sekitar 300 perusahaan, sebanyak 130 sudah gulung tikar, sehingga hanya tersisa 170.
Baca juga: BRIN Rilis Hasil Penelitian Rokok Elektrik, DPR: Penting untuk Kebijakan Berbasis Bukti
Belakangan muncul lagi 30 pemain baru, sehingga total ada sekitar 200 perusahaan yang masih beroperasi.
"Ya Alhamdulillah, at least kalau enggak bisa bertemu, paling tidak bertahan. Di 200 ini kita maintain dengan utilisasi yang semakin baik ke depannya," ujar Merrijantij.
Baca tanpa iklan