News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pendekatan Ekonomi Sirkular Diterapkan dalam Pengelolaan Sampah Kawasan

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENGELOLAAN SAMPAH - Rumah Pemulihan Material (Material Recovery Facility/MRF) Jatiwaringin untuk mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Tangerang, Banten.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan didorong dapat berjalan secara masif di berbagai daerah.

Dalam hal ini, pengembang Sinar Mas Land berkolaborasi dengan Kabupaten Tangerang, Banten, dan Waste4Change, membangun Rumah Pemulihan Material (Material Recovery Facility/MRF) Jatiwaringin.

Advisor President Office Sinar Mas Land sekaligus Project Coordinator TPST BSD City, Ignesjz Kemalawarta mengatakan, Rumah Pemulihan Material Jatiwaringin sebagai fasilitas untuk mengelola sampah rumah tangga dari penghuni klaster di BSD City dan sekitarnya.

Baca juga: Tak Hanya Berakhir di Tempat Sampah, Limbah MBG Disulap Jadi Pakan Ternak dan Pupuk

"Fasilitas ini menjadi bagian dari komitmen kami membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan, dalam kerangka ekonomi sirkular yang terintegrasi, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan," papar Ignesjz dikutip Rabu (17/12/2025).

Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang bertujuan mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber daya selama mungkin dengan meminimalkan limbah, berlawanan dengan ekonomi linear (ambil-buat-buang).

Adapun fasilitas ini dikelola oleh PT Sinar Perubahan Persampahan (PT SPP) sebagai joint venture antara Sinar Mas Land dan Waste4Change.

Melalui kerja sama ini, Waste4Change saat ini menangani pengangkutan sampah di 7 area/kawasan dan 29 klaster wilayah BSD Timur dan 20 area/kawasan dan 81 klaster di BSD Barat, dengan total volume pengelolaan mencapai 40 ton per hari.

Chief Executive Officer atau CEO Waste4Change, M. Bijaksana Junerosano, menambahkan, Waste4Change memiliki misi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah menuju nol sampah untuk mengatasi masalah persampahan di Indonesia yang sangat banyak.

"Untuk mewujudkan misi ini, kami perlu berkolaborasi dengan banyak pihak di lintas sektor untuk percepatan pengurangan sampah di Indonesia. Kolaborasi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar dan mendorong perubahan perilaku menuju pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab," paparnya.

Baca juga: Krisis Sampah di Tangsel, Ini Catatan Pengamat Kebijakan Publik Soal Perpres Percepatan PSEL

Jumlah Sampah

Data tahun 2024 menunjukkan Kabupaten Tangerang menghasilkan lebih dari 2.100 ton sampah per hari, atau setara dengan hampir 800 ribu ton per tahun.

Angka ini menempatkan Tangerang sebagai salah satu wilayah dengan timbulan sampah terbesar di sekitar Provinsi Banten.

Dalam beberapa waktu terakhir, Pemerintah Kabupaten Tangerang juga menutup sejumlah lapak limbah ilegal yang beroperasi tanpa izin dan tidak memenuhi ketentuan pengelolaan sampah yang berlaku.

Saat ini Rumah Pemulihan Material (RPM) Jatiwaringin memiliki kapasitas pengelolaan hingga 50 ton sampah per hari.

Sampah rumah tangga yang masuk ke RPM Jatiwaringin akan ditimbang terlebih dahulu, kemudian diarahkan ke area conveyor untuk menjalani proses pemilahan oleh operator secara mendetail.

Terdapat tiga kategori sampah yang dipilah yaitu sampah bernilai ekonomis yang akan dijual ke offtaker, bubur organik akan digunakan untuk budidaya Black Soldier Fly (maggot), serta material residu atau yang tidak dapat diolah kembali akan diolah menggunakan teknologi RDF (Refuse-Derived Fuel) yang akan dimanfaatkan oleh industri semen sebagai bahan bakar alternatif.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini