News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bukan Hanya Beban Berlebih, Drainase dan Aspal Tipis Picu Jalan Rusak

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEMICU KERUSAKAN JALAN - Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai pemerintah, baik pusat maupun daerah, tidak bisa terus-menerus hanya menyalahkan truk Over Dimension Over Load (ODOL) sebagai penyebab utama kerusakan jalan

Ringkasan Berita:

  • Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai pemerintah tak bisa terus menyalahkan truk ODOL atas kerusakan jalan
  • MTI dan akademisi menyebut banyak ruas cepat rusak karena kualitas konstruksi, material, dan pengawasan yang buruk
  • Selain itu, persoalan drainase dan ketebalan aspal yang tak sesuai standar memperparah kondisi, terutama saat musim hujan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai pemerintah, baik pusat maupun daerah, tidak bisa terus-menerus hanya menyalahkan truk Over Dimension Over Load (ODOL) sebagai penyebab utama kerusakan jalan. 

Menurut MTI, persoalan mendasar justru terletak pada kualitas konstruksi dan pemeliharaan jalan yang belum optimal.

Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno, mengatakan kondisi jalan rusak masih kerap ditemui, terutama saat curah hujan tinggi dan menjelang arus mudik Lebaran.

Baca juga: Zero ODOL Diterapkan di 2027, Kemenperin Sebut Industri Butuh Diberikan Insentif

Padahal, tidak semua ruas jalan tersebut dilintasi kendaraan bertonase besar.

“Tanpa dilalui truk besar pun banyak jalan mudah rusak. Ini menunjukkan kualitas konstruksinya yang buruk. Seharusnya ini juga menjadi perhatian utama pemerintah, bukan hanya fokus pada truk ODOL,” ujarnya, Minggu (22/2/2025).

Djoko menegaskan, jalan merupakan infrastruktur vital bagi distribusi logistik nasional dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Jalan yang mantap tidak hanya memperlancar arus barang, tetapi juga meningkatkan nilai aset serta membuka akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan pusat ekonomi.

Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan jika kualitas pembangunan dan pemeliharaan jalan dijalankan secara konsisten.

Kerusakan jalan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan hambatan nyata bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan Dosen Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony S. Wibowo. Ia menjelaskan bahwa kerusakan jalan tidak selalu terjadi akibat beban berlebih.

Dampak kendaraan ODOL, menurutnya, umumnya baru terasa dalam jangka waktu tertentu, bukan langsung dalam hitungan bulan.

“Kalau jalan dibangun dengan benar, pengaruh beban berlebih biasanya baru terasa setahun kemudian. Kalau baru 2–3 bulan sudah rusak, hampir pasti itu karena kualitas pekerjaan atau materialnya buruk,” ujarnya.

Sony menekankan tiga faktor utama penyebab kerusakan jalan, yakni kualitas pekerjaan, kualitas material, dan beban lalu lintas. Namun di banyak daerah, kerusakan dini lebih sering dipicu mutu konstruksi yang tidak memenuhi standar.

Drainase dan Ketebalan Aspal Jadi Sorotan

Pengamat tata kota Yayat Supriyatna menambahkan, kerusakan jalan saat musim hujan memang lazim terjadi karena air merupakan musuh utama konstruksi aspal. Meski demikian, ia menilai masalah utamanya bukan pada hujan semata, melainkan pada kualitas teknis pembangunan.

Salah satu persoalan yang kerap ditemukan adalah ketebalan aspal yang terlalu tipis. Pengerjaan sering kali hanya mengejar tampilan permukaan yang mulus tanpa memperhatikan standar teknis ketebalan dan sistem drainase.

“Ketebalan aspalnya tipis, yang penting terlihat mulus. Padahal yang paling parah adalah ketika jalan tidak didukung drainase yang baik,” ujarnya.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini