TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencetak laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 57,132 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, hingga akhir triwulan IV tahun 2025 kinerja keuangan BRI menunjukkan tren pertumbuhan positif dan berkelanjutan.
"Hingga akhir triwulan IV tahun 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 57,132 triliun," kata Hery saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (26/2/2026).
Baca juga: Cara Tukar Uang Baru di Bank BCA, BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BSI
Hery mencatat, secara konsolidasi total aset BRI tumbuh sebesar 7,1 persen secara tahunan menjadi Rp 2,135 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 7,4 persen secara tahunan mencapai RP 1,467 triliun didorong oleh penguatan dana murah atau CASA.
Hery menegaskan, porsi dana murah yang terus meningkat tersebut memberikan dampak yang positif terhadap cost of fund BRI.
"Tercatat cost of fund dana pihak ketiga pada akhir tahun 2025 itu mengalami penurunan dari sebelumnya cukup tinggi, menjadi sebesar 2,9 persen atau membaik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar 3,1 persen," tutur dia.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI membukukan pertumbuhan sebesar 12,3 persen secara tahunan menjadi Rp. 1,521 triliun dengan fokus penyaluran pada segmen UMKM.
"Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional. Di sepanjang tahun 2025, industri mencatat pertumbuhan sebesar 9,6 persen," terang Hery.
Meski tumbuh pesat, penyaluran kredit tetap dilakukan secara prundent. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga di angka 3,07 persen. Sementara loan at risk (LAR) turun dari 10,7 persen menjadi 9,6 persen.
"Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan," tegas Hery.
Direktur Trusery International Banking Farida Thamrin menyatakan, pertumbuhan aset sebagian besar disumbang oleh ekspansi kredit UMKM.
"Pertumbuhan aset selama tahun 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar Rp 167 triliun secara year-on-year yang sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM," tutur dia.
Farida menyatakan, pertumbuhan giro mencapai 19,7 persen sementara tabungan naik 7,9 persen menandakan kepercayaan masyarakat terhadap BRI semakin meningkat.
"Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA yang meningkat 331 basis point secara year-on-year yang didukung dan didorong oleh pertumbuhan tabungan retail yang konsisten," terangnya.
Baca tanpa iklan