News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tren Baru Industri Fashion: Bukan Lagi Soal Harga, Tapi Keberlanjutan

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: willy Widianto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan perilaku konsumsi masyarakat menunjukkan pergeseran yang semakin jelas.

Baca juga: Menteri Agus Dorong Pembinaan Warga Binaan Lewat Kolaborasi Industri Fashion

Konsumen tidak lagi hanya menilai produk dari sisi fungsi dan harga, tetapi juga mulai mempertimbangkan asal bahan, proses produksi, serta dampak lingkungan yang ditimbulkan. Di sektor fashion dan travel goods, perhatian terhadap material menjadi isu penting.

Bahan alternatif seperti vegan leather, kain sintetis berkualitas tinggi, serta material tahan lama mulai banyak digunakan sebagai respons terhadap tuntutan pasar yang lebih etis dan bertanggung jawab.

Pilihan material tersebut dipandang mampu mengurangi ketergantungan pada bahan berbasis hewan sekaligus menekan dampak lingkungan dari siklus produksi dan konsumsi yang terlalu cepat.

Selain material, konsep penggunaan jangka panjang juga kian mendapat perhatian. Produk yang dirancang awet, dapat diperbaiki, dan tetap relevan dalam waktu lama dinilai lebih selaras dengan prinsip konsumsi bertanggung jawab.

Pola ini mendorong produsen untuk meningkatkan standar kualitas, memperhatikan layanan purna jual, serta membangun hubungan yang lebih berkelanjutan dengan konsumen.

Perkembangan ini tercermin dalam strategi sejumlah brand yang menyesuaikan diri dengan tuntutan konsumen.

Baca juga: Industri Fashion Muslim Indonesia Berpotensi Kuasai Pasar Global

Salah satu contohnya adalah brand Taylor Fine Goods (TFG) yang memposisikan diri sebagai brand yang menekankan relasi jangka panjang dengan pengguna. Prinsip tersebut tercermin dari kebijakan garansi seumur hidup yang diterapkan sebagai standar kualitas.

“Komitmen dan kepercayaan kepada konsumen bahwa bukan sekadar transaksi, tetapi hubungan jangka panjang agar konsumen merasa aman dan percaya bahwa produk yang mereka beli akan terus didukung, berkelanjutan (sustainability) dengan mengutamakan perbaikan (repair) membantu memperpanjang usia pakai produk, mendorong konsumsi yang lebih bertanggung jawab,” ujar CEO Taylor Fine Goods, Dwi Hanni Yunianto Purwanto Putro dikutip Senin (2/3/2026).

Hal tersebut sekaligus menjadi pembeda di tengah persaingan industri.
Menurut Dwi, kebijakan ini juga sejalan dengan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap transparansi dan tanggung jawab produsen.

“Lifetime warranty menjadi nilai tambah yang membedakan brand dari kompetitor, sekaligus menunjukkan keseriusan brand terhadap kualitas dan layanan purna jual,” ujarnya.

Dalam menjaga konsistensi kualitas, proses produksi menjadi perhatian utama. Dwi menjelaskan, setiap produk melalui tahapan perencanaan yang detail, mulai dari penentuan ukuran, pemilihan material, warna, hingga posisi label, dengan menggunakan bahan yang telah lolos seleksi.

Baca juga: Dukung Industri Fashion Lokal, PUBG Mobile Kolaborasi dengan Machine56

"Sebelum produksi massal dibuat prototype, dicek detail fungsi, kekuatan jahitan dan estetika. Produksi dibagi beberapa tahap dengan checkpoint QC di setiap tahap bukan hanya di akhir untuk mencegah kesalahan kecil berkembang jadi cacat besar,” jelasnya.

"Dalam setiap proses pengembangan produk, TFG berkomitmen untuk menghadirkan desain yang tidak hanya relevan secara visual tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan pengguna,” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini