TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sepanjang 2025, Jakarta International Container Terminal (JICT) mencatat kinerja operasional yang solid dengan throughput melebihi 2 juta TEUs (Twenty-foot Equivalent Units).
Secara kumulatif, terminal ini telah menangani lebih dari 50 juta TEUs sejak mulai beroperasi.
Istilah throughput sendiri sering digunakan di dunia logistik dan pelabuhan untuk menunjukkan jumlah barang atau peti kemas yang berhasil ditangani dalam periode tertentu.
Baca juga: JICT Terapkan Terminal Booking System di Tanjung Priok, Dorong Efisiensi Logistik Nasional
Capaian JICT ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga produktivitas, meski menghadapi dinamika perdagangan global dan tantangan rantai pasok internasional.
Angka tersebut menegaskan posisi strategis JICT sebagai salah satu simpul utama arus logistik, baik di tingkat nasional maupun dalam jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai pasar global.
Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menyatakan bahwa sebagai salah satu terminal peti kemas terbesar di Indonesia, JICT terus memperkuat kontribusinya dalam perdagangan global melalui peningkatan kinerja operasional yang berkelanjutan.
“Kami terus memperkuat peran JICT dalam perdagangan global melalui peningkatan kinerja operasional dan transformasi berkelanjutan,” ujarnya dalam acara syukuran HUT ke-27 JICT di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Menurut Ade, transformasi yang dilakukan tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas dan kecepatan layanan, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. Sejumlah langkah strategis telah diterapkan, mulai dari konversi alat operasional seperti rubber tyred gantry (RTG) berbasis listrik, hingga digitalisasi layanan yang mempercepat proses bongkar muat sekaligus meningkatkan transparansi operasional.
Selain itu, JICT memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan melalui program penghijauan kawasan operasional dan pengurangan emisi karbon, sebagai bagian dari inisiatif menuju green port.
“Transformasi ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi tanpa mengorbankan produktivitas,” tambah Ade.
Di momentum peringatan HUT ini, JICT juga memperkenalkan seragam baru yang mencerminkan peningkatan standar kerja dan profesionalisme. Pembaruan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang lebih adaptif dan berorientasi pada kinerja.
Perusahaan juga menghadirkan fasilitas Klinik Satelit untuk mendukung aspek fit to work bagi para pekerja. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dan kesehatan tenaga kerja, sehingga berdampak langsung pada keselamatan dan produktivitas operasional.
“Ini menjadi simbol transformasi budaya sekaligus pemberdayaan seluruh insan JICT,” ujar Ade.
Sementara itu, Stephen Ashworth, Managing Director Hutchison Ports Southeast Asia, menegaskan bahwa JICT memiliki peran penting dalam jaringan pelabuhan global yang dikelola perusahaan. Dengan standar operasional tinggi dan efisiensi yang terus ditingkatkan, JICT mampu bersaing dengan terminal peti kemas lain di kawasan Asia Tenggara.
Baca tanpa iklan