TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang meletus pada 28 Februari 2026 mulai membawa dampak negatif pada industri pariwisata dan manufaktur di Jepang.
Perang Iran vs Amerika-Israel menyebabkan ribuan pelancong dari Eropa membatalkan reservasi mereka untuk berlibur ke Jepang karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Tidak ada kepastian apakah mereka akan menjadwal ulang perjalanan mereka dalam beberapa bulan mendatang.
Perang yang masih berlangsung dan penutupan Selat Hormuz menyebabkan biaya perjalanan antara Eropa dan Jepang menjadi lebih mahal.
Sejumlah maskapai penerbangan yang menerbangi rute dari kota-kota populer di Eropa menuju Jepang via Timur Tengah dan sebaliknya, banyak yang telah membatalkan penerbangan tersebut.
Hal itu menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap penerbangan langsung dari Eropa ke Jepang dan sebaliknya. Pada saat yang sama, banyak maskapai penerbangan menaikkan tarif penerbangan karena melonjaknya harga bahan bakar.
Lonjakan harga tiket penerbangan Jepang-Eropa mengakibatkan terjadinya pembatalan terbang oleh calon penumpang dari Eropa terutama dari negara-negara populer di wilayah ini.
Baca juga: Perang Iran-AS Bikin Ekspor Baterai Lithium-ion dan Mobil Listrik China Melonjak
Di wilayah Hida-Takayama di Prefektur Gifu, di kaki Pegunungan Alpen Jepang dan dekat desa bersejarah Shirakawa-go, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, terjadi 4.000 pembatalan hotel dan penginapan.
Sebagian besar tamu yag cancel berasal dari Eropa dan pembatalan tersebut telah mereka terima sejak perang meletus pada 28 Februari 2026.
Pasokan Aluminium Juga Seret, Toyota dan Denso Terdampak
Selain membuat industri pariwisata Jepang lesu, perang Iran vs Amerika-Israel juga menyebabkan pasokan aluminium dari Timur Tengah ke Jepang jadi seret.
Industri manufaktur Jepang selama ini sangat bergantung pada pasokan aluminium dari Timur Tengah. Kelangkaan pasokan ini memaksa perusahaan Jepang mengurangi produksi dan mencari sumber pasokan alternatif setelah jalur pengiriman utama terputus akibat konflik Iran.
Di antara industri manufaktur di Jepang yang paling terdampak oleh perang Iran-Amerika adalah produsen mobil dan suku cadang seperti Toyota Motor dan Denso.
Baca juga: Australia dan Jepang Tandatangani Kontrak Pengadaan Kapal Perang Senilai Rp100 Triliun
Produsen mobil domestik mendapatkan sekitar 70 persen impor aluminium mereka dari Timur Tengah, menurut lobi otomotif utama negara itu.
Harga paduan ringan ini—yang digunakan dalam segala hal mulai dari komponen mesin hingga roda—telah melonjak sekitar 13 persemn sejak permusuhan dimulai pada akhir Februari.
"Baru sebulan berlalu, tetapi hampir pasti kita akan segera kesulitan membuat suku cadang mobil," kata Daiki Kato, CEO Kato Light Metal Industry, dalam sebuah wawancara pada akhir Maret.
"Kita akan lebih selektif dalam pengeluaran dan menghemat energi," imbuhnya.
The Japan Times
Baca tanpa iklan