News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

BPS Belum Ukur Dampak Khusus Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Inflasi

Penulis: Gita Irawan
Editor: Dodi Esvandi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) RI menyatakan belum melakukan pengukuran secara khusus pengaruh program prioritas pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap inflasi di Indonesia. Hal itu dikatakan Direktur Statistik Harga BPS RI, Sarpono, saat Workshop Wartawan Pemanfaatan Data Strategis BPS di kantor BPS RI, Jakarta Pusat pada Selasa (21/4/2026)

TRIBUNNEWS.COM,  JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum melakukan pengukuran khusus mengenai dampak program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), terhadap angka inflasi nasional.

Direktur Statistik Harga BPS RI, Sarpono, menjelaskan bahwa inflasi merupakan indikator perubahan harga pada paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. 

Pengukurannya didasarkan pada persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis secara rutin setiap awal bulan.

"Sejauh ini, kami belum mengukur pengaruh program MBG terhadap inflasi secara spesifik," ujar Sarpono dalam acara Workshop Wartawan Pemanfaatan Data Strategis BPS di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).

Menurut Sarpono, program MBG kemungkinan besar tidak akan memicu lonjakan permintaan komoditas secara signifikan. 

Hal ini dikarenakan program tersebut pada dasarnya hanya mengubah pola distribusi, bukan menambah jumlah konsumsi total masyarakat.

"MBG itu sifatnya hanya menggeser penyediaan makanan. Jika sebelumnya anak sekolah membawa bekal dari rumah, kini makan siangnya disediakan oleh sekolah atau pemerintah," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa frekuensi makan siswa tetap sama, yakni tiga kali sehari. 

Begitu pula dengan jenis bahan pangan yang dibutuhkan. 

"Kalau biasanya sang ibu memasak telur atau ayam untuk bekal, sekarang komoditas yang sama disediakan melalui program ini. Jadi, secara konsumsi agregat tidak ada perubahan drastis," imbuhnya.

Baca juga: Gus Ipul Apresiasi BPS, Pemutakhiran DTSEN Kini Lebih Cepat dan Bansos Lebih Tepat

Faktor Pendorong Inflasi Menurut BPS

Dalam kesempatan yang sama, Sarpono memaparkan dua kategori utama yang menjadi pemicu inflasi di Indonesia:

  1. Faktor Tekanan Biaya (Cost-Push Factors)

Faktor ini berkaitan dengan kenaikan biaya produksi yang memaksa harga jual naik, di antaranya:

    • Fluktuasi Komoditas Global: Perubahan harga minyak mentah atau emas dunia.
    • Volatilitas Nilai Tukar: Pelemahan Rupiah yang membuat barang impor menjadi lebih mahal.
    • Gangguan Rantai Pasok: Kendala distribusi akibat faktor eksternal atau logistik.

2. Faktor Tarikan Permintaan (Demand-Pull Factors)

Faktor ini terjadi ketika permintaan masyarakat meningkat melampaui kapasitas produksi, yang dipicu oleh:

    • Peningkatan Belanja Pemerintah: Stimulus fiskal yang meningkatkan peredaran uang.
    • Momen Musiman: Lonjakan permintaan saat hari raya keagamaan dan musim liburan.
    • Pertumbuhan Kredit: Kemudahan akses pinjaman yang mendorong daya beli masyarakat.
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini