Ringkasan Berita:
- IHSG sesi I turun 1,43 persen ke level 6.807,12, sementara rupiah melemah hingga Rp17.508 per dolar AS.
- Pasar saham dibayangi hasil review MSCI dan potensi keluarnya saham big cap yang memicu kekhawatiran capital outflow.
- Konflik AS-Iran, lonjakan harga minyak dunia, dan ancaman PHK domestik turut menekan sentimen pasar Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 di level 5,61 persen, tidak mampu membawa sentimen terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), IHSG sesi pertama ditutup turun 1,43 persen atau 98,49 poin ke level 6.807,12 dari posisi penutupan kemarin 6.905,62.
Sebanyak 456 saham turun, 192 saham naik, dan 166 saham stagnan.
Baca juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.508 per Dolar AS, Pasar Mulai Kehilangan Kepercayaan Terhadap Indonesia?
Total volume perdagangan mencapai 18,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,5 triliun.
Pelemahan IHSG hari ini dibayangi akan diumumkannya hasil review indeks MSCI.
Indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) digunakan sebagai kompas oleh manajer dana asing untuk alokasi investasi global.
Senior Technical Analyst, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, terdapat kekhawatiran terkait potensi keluarnya beberapa saham big cap, seperti BREN dan DSSA pada pengumuman sebelumnya, karena kebijakan High Shareholder Concentration (HSC).
"Fokus utama pasar pada hari ini adalah pengumuman hasil quarterly review dari MSCI," papar Nafan dikutip Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, spekulasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya aliran modal keluar asing yang signifikan.
Di sisi lain, kata Nafan, terjadi kemunduran diplomatik baru antara Washington dan Teheran, dimana pada 11 Mei 2026, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap 12 entitas dan individu yang dituduh memfasilitasi perdagangan minyak ilegal Iran ke Tiongkok.
Pergerakan Rupiah
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.479 per dolar AS, atau melemah 0,37 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.414 per dolar AS.
Tekanan rupiah kembali berlanjut, sekitar pukul 09.45 WIB, rupiah sentuh level Rp 17.506 atau melemah 0,53 persen, dan pukul 09.50 WIB melanjutkan pelemahan ke posisi Rp17.508 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan mata uang rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan persoalan domestik yang dinilai belum sepenuhnya mendukung penguatan rupiah.
Dari sisi global, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Ia menilai konflik di kawasan Selat Hormuz masih berlanjut meski sebelumnya sempat dinyatakan mereda. Serangan-serangan kecil yang terus terjadi dinilai memicu kekhawatiran pasar global.
"Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump, tetapi kita lihat bahwa kenyataannya di lapangan Amerika terus melakukan penyerangan-penyerangan di Selat Hormuz," ungkap Ibrahim.
Selain itu, Ibrahim menyoroti keterlibatan Uni Emirat Arab yang disebut masih melakukan serangan terhadap Iran, termasuk serangan yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April.
Kondisi tersebut dinilai mendorong penguatan indeks dolar AS dan berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil.
"Nah kenaikan dari Brent crude oil ini berdampak terhadap transportasi dengan biaya yang cukup mahal," terang Ibrahim.
Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah.
Oleh sebab itu, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi dinilai masih terbatas.
Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor padat karya. Menurutnya, sejak Januari hingga April 2026 tercatat sekitar 40.000 pekerja di sektor manufaktur, tekstil, garmen dan elektronik terkena PHK.
"Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," ungkap Ibrahim.
Di sisi lain, Ibrahim menyebut struktur ketenagakerjaan Indonesia yang didominasi pekerja informal turut menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia mencatat jumlah pekerja informal mencapai sekitar 87,74 juta orang.
"Artinya bahwa saat ini yang ada di Indonesia yang bekerja secara formal itu sangat sedikit sekali dibandingkan dengan pekerja informal," ucapnya.
Baca tanpa iklan