TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN Primus Yustisio menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan sejumlah mata uang asing lainnya.
Sorotan tersebut disamapikannya dalam rapat kerja bersama Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Dalam rapat tersebut, Primus secara terbuka menyinggung kemungkinan Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral di tengah keterpurukan rupiah saat ini.
“Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah. Selanjutnya terserah Bapak tentu saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik seperti itu,” kata Primus.
Pernyataan itu disampaikan Primus setelah menyoroti kondisi nilai tukar rupiah yang dinilai terus melemah meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level 5,61 persen.
“Saya pribadi skip juga apresiasinya, saya tunda dulu. Karena kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar,” ujarnya.
Selain nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti kondisi pasar saham Indonesia yang dinilai belum mampu pulih seperti negara-negara lain setelah gejolak ekonomi global akibat konflik geopolitik internasional.
“Indeks kita juga habis Pak, merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya, dan mereka sudah rebound bahkan sudah plus. Dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen,” ujarnya.
Menurut Primus, kondisi tersebut membuat publik dan pelaku pasar mulai mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral negara.
“Ini kan bagaimana global mempertanyakan, salah satu ada banyak faktor tetapi mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, Bank Sentral kita ini,” katanya.
Primus juga mengungkapkan, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga terhadap berbagai mata uang asing lainnya.
“Kalau dibandingkan dengan dolar, sekarang selalu perbandingannya dengan dolar, tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Riyal, apalagi Hong Kong Dolar, Euro,” kata Primus.
Dalam rapat tersebut, Primus turut menilai Bank Indonesia mulai kehilangan kepercayaan publik akibat tekanan ekonomi dan melemahnya nilai tukar rupiah.
“Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah mengesampingkan kredibilitasnya,” tandasnya.
Baca tanpa iklan