News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Makin Marak, Masyarakat Diajak Mewaspadai Penipuan Digital Berbasis AI 

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

WASPADAI FRAUD BERBASIS AI - Whitepaper bertajuk SEA Digital Identity Fraud Outlook menyoroti perubahan lanskap fraud digital yang semakin terstruktur dan sulit dikenali. Whitepaper seperti yang ditunjukkan Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur mengajak masyarakat mewaspadai praktik penipuan digital dan menekankan pentinhnya perlindungan identitas digital berlapis untuk mengantisipasi risiko fraud berbasis AI.

Ringkasan Berita:

  • Kerugian di masyarakat akibat praktik penipuan digital ditaksir mencapai Rp9 triliun dengan lebih dari 411.000 laporan dari para korban.
  • Praktik penipuan digital memicu hilangnya rasa aman memudar, hancurnya reputasi dan harapan hidup.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kerugian di masyarakat akibat praktik penipuan digital ditaksir mencapai Rp9 triliun dengan lebih dari 411.000 laporan dari para korban sepanjang November 2024 hingga akhir 2025 saja.

Selain menyebabkan kehilangan materi, praktik penipuan digital juga memicu luka emosional, hilangnya rasa aman, reputasi yang hancur, hingga harapan hidup ikut runtuh. 

Untuk mengajak masyarakat mewaspadai praktik-praktik penipuan digital berbasis AI, di Jakarta digelar pameran narasi bertajuk "Faces of Fraud".

Melalui inisiatif ini, lima wajah di balik kisah penipuan digital dengan berani membagikan cerita mereka sebagai bagian dari gerakan edukasi publik dan upaya bersama memberantas penipuan digital. 

Baca juga: Antisipasi Serangan Siber, Infrastruktur Digital Pemerintah Daerah Terus Diperkuat 

Mereka berharap pengalaman yang dialami dapat berhenti pada diri mereka dan tidak terulang pada lebih banyak masyarakat.

Dengan membuka ruang percakapan secara lebih jujur dan manusiawi, Faces of Fraud turut meningkatkan kesadaran publik terhadap modus penipuan yang kian canggih, mulai dari manipulasi psikologis (social engineering) hingga pengambilalihan akun. 

Pameran ini sendiri diselenggarakan oleh Vida, perusahaan identitas digital dan fraud prevention.

"Setiap wajah dalam Faces of Fraud mewakili seseorang yang pernah menaruh kepercayaan pada sistem keamanan identitas, namun gagal terlindungi dari celah yang ada. Melalui gerakan ini, kami ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital tidak hanya meninggalkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, dan dampak yang membekas dalam kehidupan sehari-hari," ujar Niki Luhur, Founder dan Group CEO Vida. 

Faces of Fraud menampilkan masyarakat dari kalangan ibu rumah tangga hingga pekerja profesional yang menjadi sasaran praktik penipuan digital, antara lain:

● Pencurian Masa Depan: Seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan hidupnya akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat. 

● Penyalahgunaan Identitas: Data pribadi korban digunakan untuk pinjaman online ilegal tanpa persetujuan, meninggalkan beban psikologis berkepanjangan. 

● Manipulasi Empati: Seorang orang tua kehilangan dana pengobatan anak akibat terjebak dalam modus donasi palsu. 

Niki mengatakan, memerangi penipuan digital yang terus berevolusi tidak bisa dilakukan sendirian. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam Faces of Fraud menjadi pengingat bahwa di balik setiap kasus terdapat dampak nyata terhadap kehidupan seseorang. 

Berangkat dari hal tersebut, pihaknya siap menjadi membantu masyarakat dan dunia usaha dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman dan tepercaya. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini