Ringkasan Berita:
- Dari sisi neraca, perusahaan mencatat perbaikan sejumlah indikator keuangan.
- Ia menyebut capaian tersebut tidak lepas dari kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian dan memengaruhi permintaan di sektor properti.
- Dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan suku bunga kredit, serta sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian di tengah ketidakpastian ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kinerja industri properti yang masih menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut tercermin dalam capaian PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) sepanjang tahun 2025. Di tengah melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit, serta kecenderungan konsumen yang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian, emiten pengembang properti asal Minahasa, Sulawesi Utara tersebut tetap membukukan penjualan sebesar Rp24,53 miliar dengan laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp 2,7 miliar.
Baca juga: Ini Strategi Emiten Properti di Tengah Kenaikan BI Rate ke 5,50 Persen
Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto menyampaikan bahwa realisasi penjualan tersebut baru mencapai sekitar 33,6 persen dari target yang ditetapkan perusahaan pada awal tahun sebesar Rp73,02 miliar. Ia menyebut capaian tersebut tidak lepas dari kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian dan memengaruhi permintaan di sektor properti.
"Sepanjang 2025, Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp24,53 miliar dan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp2,7 miliar," ujar Andrie dalam Paparan Publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (11/6/2026).
Dari sisi neraca, perusahaan mencatat perbaikan sejumlah indikator keuangan. Total aset meningkat menjadi Rp84,6 miliar dibandingkan Rp82,1 miliar pada tahun sebelumnya. Liabilitas tercatat menurun menjadi Rp3,5 miliar dari Rp3,7 miliar, sementara ekuitas naik menjadi Rp81,2 miliar dari Rp78,3 miliar.
Andrie menjelaskan bahwa tekanan pada penjualan terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan suku bunga kredit, serta sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian di tengah ketidakpastian ekonomi. Selain itu, ketatnya persaingan di industri properti juga ikut memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan.
Dari sisi biaya, perusahaan turut menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga bahan bangunan yang berdampak pada pengelolaan margin keuntungan sepanjang tahun berjalan.
"Penurunan pencapaian laba salah satunya disebabkan volatilitas harga bahan-bahan bangunan dan turunannya yang berada di luar kendali Perseroan," kata Andrie.
Meski demikian, HBAT menyebut tetap berupaya menjaga kinerja keuangan melalui pengendalian biaya operasional dan modal secara lebih ketat. Perusahaan melakukan penyesuaian belanja agar lebih fokus pada kebutuhan yang dianggap penting dan strategis, serta memperkuat pengawasan dalam proses pengadaan.
Baca juga: APINDO: Kenaikan BI Rate Tekan Properti, Otomotif hingga UMKM
"Seluruh pengeluaran kami fokuskan pada kebutuhan yang bersifat strategis dan esensial, dengan pemantauan ketat terhadap biaya per unit, sehingga pada akhir tahun Perseroan masih mampu mencatatkan laba," ujarnya.
Direktur Utama HBAT, Go Ronny Nugroho, menambahkan bahwa industri properti diperkirakan masih menghadapi tantangan pada 2026, seiring pemulihan permintaan yang berjalan bertahap. Namun demikian, ia menilai segmen rumah tapak masih menjadi salah satu yang relatif stabil di tengah kondisi tersebut.
Menurutnya, permintaan rumah tapak tetap ada karena karakteristiknya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk faktor kenyamanan dan fleksibilitas ruang hunian.
Di sisi lain, perusahaan juga melaporkan bahwa dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) telah direalisasikan sepenuhnya hingga Desember 2025, yang digunakan untuk pembelian lahan, pembangunan fasilitas perumahan, serta modal kerja sesuai kebutuhan operasional.
Baca tanpa iklan